JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas tengah dalam tren penurunan dan berdiri di bawah rata-rata pergerakan nilainya dalam 200 hari terakhir.
Meski demikian, kalangan analis menilai bahwa harga emas dalam jangka panjang masih memiliki peluang untuk melanjutkan reli. Pada hari Senin (8/6/2026), harga emas menurun 0,32% menjadi US$ 4.315,38 per troy ounce.
Dikutip dari Kitco News, Selasa (9/6/2026), Kepala Riset Komoditas dan Makroekonomi di WisdomTree, Nitesh Shah menilai bahwa sentimen yang lebih berpengaruh bagi emas adalah perkembangan inflasi Amerika Serikat, meskipun pasar masih menanti arah kebijakan Ketua Federal Reserve baru Kevin Warsh.
“Ada banyak potensi penurunan suku bunga riil, terutama jika The Fed mempertahankan suku bunga tetap dan inflasi meningkat,” kata Nitesh Shah.
Bahkan jika The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah, Shah mencatat bahwa percepatan inflasi secara efektif akan mengurangi suku bunga riil. Ini menjadi salah satu faktor terpenting yang memengaruhi harga emas.
Selain inflasi, Nitesh Shah mengatakan, risiko perlambatan ekonomi juga dapat menciptakan katalis tambahan bagi emas. Setiap perlambatan ekonomi yang terjadi kemungkinan akan memperkuat peran emas sebagai aset defensif, katanya.
“Jika Anda mulai melihat perlambatan ekonomi, itu adalah alasan lain bagi harga emas untuk naik,” ucap dia.
“Emas cenderung berkinerja baik dalam skenario resesi. Ini adalah aset defensif yang sangat kuat,” sambungnya.
Nitesh Shah juga menunjuk pada kekhawatiran yang meningkat seputar keberlanjutan utang pemerintah sebagai pilar struktural lain yang mendukung harga emas.
Adapun sentimen terkait lonjakan utang pemerintah AS yang mendekati tingkat yang setara dengan pengeluaran militer, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan kebijakan fiskal Amerika dalam jangka panjang.
“Harga emas saat ini sangat tinggi karena pasar khawatir tentang keberlanjutan utang,” beber Nitesh Shah.