Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Berat, Harga Minyak Dunia Melonjak

Trump Ancam Iran dengan Konsekuensi Berat, Harga Minyak Dunia Melonjak

Share
Share

WASHINGTON, Detiktoday.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (10/6/2026) menegaskan, pihak Iran telah terlalu lama mengulur waktu dalam proses negosiasi dan kini harus “membayar harganya”.

Pernyataan keras ini muncul setelah terjadinya aksi saling balas serangan udara antara kedua negara. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, lapor Reuters, Rabu.

Serangan tersebut merupakan pembalasan atas gempuran militer AS terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz sehari sebelumnya.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menuding Iran tidak memiliki iktikad baik dalam perundingan.

“Iran hanya banyak bicara tanpa tindakan. Mereka telah membuang waktu terlalu lama untuk menegosiasikan kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sekarang, mereka harus membayar harganya!” tulis Trump.

Dalam laporan terpisah dari Fox News, Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan yang menyasar infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran terus menunda kesepakatan.

Dampak pada Pasar Energi

Ketegangan geopolitik ini langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah pernyataan Trump tersebut. Minyak mentah Brent tercatat naik US$ 1,74 (1,9%) ke level US$ 93,19 per barel, sementara US West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,91 (2,17%) menjadi US$ 90,11 per barel.

Di sisi lain, upaya diplomasi sebenarnya masih terus diupayakan. Seorang sumber menyatakan, lapor Reuters, negosiator asal Qatar telah terbang ke Teheran pada Rabu pagi setelah berkonsultasi dengan pihak AS untuk memfinalisasi kesepakatan damai. Namun, respons resmi dari Gedung Putih terkait upaya negosiasi ini belum tersedia.

Menanggapi gempuran AS, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan Iran akan mengevaluasi kembali keterlibatan diplomatik mereka dengan Washington. Menurutnya, aksi militer AS telah berulang kali melanggar gencatan senjata.

“Proses diplomatik apa pun membutuhkan lingkungan yang stabil,” tegas Baghaei.

Militer AS mengeklaim serangan mereka selama empat jam tersebut merupakan apa yang disebutnya tanggapan proporsional atas jatuhnya helikopter Apache milik AS. Operasi tersebut dilaporkan menyasar sekitar 20 target, termasuk stasiun kontrol darat, radar pengawasan, dan sistem pertahanan udara Iran di sekitar Selat Hormuz.

Konflik terbuka yang melibatkan AS, Israel, dan Iran ini meletus sejak 28 Februari 2026, ketika serangan gabungan AS-Israel diluncurkan ke target-target strategis Iran. Meski sempat disepakati gencatan senjata pada April 2026, situasi di kawasan tetap rapuh.

Ketegangan semakin diperparah oleh keterlibatan Israel dalam rangkaian serangan baru-baru ini, yang membuat prospek perdamaian semakin meredup. Eskalasi ini merupakan salah satu yang paling signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mengingat posisi Selat Hormuz yang krusial bagi lalu lintas energi global, menjadikannya titik paling sensitif yang memengaruhi ekonomi dunia saat ini.

Share