Mufti Anam Kritisi Naiknya BBM dan Singgung Lagu Viral MBG: Pemerintah Harus Lebih Peka

Mufti Anam Kritisi Naiknya BBM dan Singgung Lagu Viral MBG: Pemerintah Harus Lebih Peka

Share
Share

Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengritik kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang diumumkan secara mendadak. Dalam kritiknya, Mufti juga menyinggung fenomena viral lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng) My Little Bolu Ketan” yang belakangan ramai di media sosial.

“Belakangan kita melihat ekspresi publik di media sosial dengan viralnya My Little Bolu Ketan MBG. Saya justru melihat itu bukan semata-mata pujian,” kata Mufti, dikutip Kamis (11/6/2026).

Menurut Mufti, fenomena tersebut merupakan bentuk ekspresi masyarakat yang menyimpan pesan dan harapan kepada pemerintah agar lebih peka terhadap kondisi yang sedang dihadapi rakyat.

Itu adalah cara rakyat menyampaikan harapan secara baik-baik kepada pemerintah.

Ia menambahkan terdapat pesan tersirat di balik viralnya lagu tersebut yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah.

“Ada pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat ingin pemerintah hadir, bekerja lebih keras, dan menjaga agar harga-harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali. Jangan sampai ekspresi positif itu disalahartikan. Di balik candaan itu, ada harapan besar agar pemerintah serius menjaga stabilitas harga,” tegasnya.

Mufti juga menyoroti kenaikan harga BBM yang dinilainya cukup drastis. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menurut legislator asal Jawa Timur itu, proses pengambilan keputusan terkait kenaikan harga BBM dilakukan tanpa transparansi yang memadai. Bahkan, DPR RI sebagai mitra kerja pemerintah disebut tidak mendapatkan informasi sebelumnya.

“Kenaikan yang signifikan ini terjadi tiba-tiba, tanpa sosialisasi memadai dan tanpa penjelasan utuh. DPR pun tidak mendapatkan informasi maupun diajak berdiskusi. Pola seperti ini terus berulang dan selalu kami kritisi di Komisi VI,” ucapnya.

Mufti mengingatkan bahwa BBM merupakan komoditas strategis yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat. Kenaikan harga BBM akan berdampak pada meningkatnya biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan sejauh mana pemerintah memahami kesulitan yang saat ini dihadapi masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

“Rakyat selama ini selalu diminta memahami kondisi negara, memahami situasi global, dan beban fiskal. Pertanyaannya, kapan pemerintah mau memahami rakyat? Kapan pemerintah benar-benar menunjukkan bahwa mereka juga mengerti beban berat yang sedang dipikul rakyat?” ungkap Mufti.

Menurutnya, kekecewaan masyarakat bukan hanya dipicu oleh kenaikan harga, tetapi juga karena mereka merasa tidak dilibatkan dan tidak mendapatkan penjelasan yang memadai dalam proses pengambilan kebijakan.

“Tiba-tiba harga berubah, sementara daya beli masih tertekan dan lapangan usaha masih menghadapi berbagai tantangan. Setiap kebijakan BBM harus dilakukan dengan transparan, hati-hati, dan yang terpenting, penuh empati terhadap kondisi rakyat,” pungkasnya.

Share