JAKARTA, Detiktoday.com – Kalangan pengamat memprediksi harga emas dunia bergerak fluktuatif dengan peluang penguatan tetap bertahan.
Pengamat pasar logam mulia, Ibrahim Assuaibi memproyesikan harga emas bergerak di antara level US$ 4.058 – US$ 4.571 per troy ounce pekan depan.
Ibrahim melihat, harga emas masih dapat terkoreksi jika ketegangan geopolitik kembali memanas. Namun, harga emas juga dinilai berpeluang menguat jika kesepakatan pembukaan Selat Hozmuz, yanng dikenal sebagai jalur perlintasan 20% minyak global, berjalan lancar.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), harga emas ditutup naik 0,19% ke level US$ 4.218,91 per troy ounce.
“Apabila harga emas dunia terkoreksi, level support pertama di US$ 4.058 per troy ounce dan logam mulia (emas Antam) Rp 2.610.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu (14/6/2026).
Jika kembali melemah, support kedua harga emas di US$ 3.929 per troy ounce, kemudian logam mulia atau emas Antam di Tp 2.500.000 per gram,” kata Ibrahim. Meski demikian, ia memprediksi peluang harga emas untuk rebound tetap kuat.
“Seandainya harga emas mengalami penguatan, resistance pertama di US$ 4.394 per troy ounce kemudian logam mulianya Rp 2.740.000 per gram. Kemudian resistance kedua di US$ 4.571 per troy ounce dan emas Antam Rp 2.880.000 per gram,” beber
Dari segi fundamental, Ibrahim mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas tergantung pada perkembangan terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran dijadwalkan akan ditatangani pada hari minggu. Isi dari perdamaian ini adalah pembukaan Selat Hormuz. Pembukaan jalur perlintasan energi global tersebut diyakini bisa meredam tekanan pada inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak.
“Kalau benar-benar terjadi perdamaian antara AS dan Iran kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar masyarakat investor yang tadinya melakukan investasi di dolar akan berbalik ke emas sebagai safe haven. Karena Kita lihat bahwa sebelumnya harga emas mengalami pelemahan imbas blokade di Selat Hormuz yang membuat dolar AS naik,” papar Ibrahim.
“Kemudian dari segi ini dari segi kebijakan moneter, minggu depan bank-bank sentral global akan kembali melakukan pertemuan. Salah satunya Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa, Bank of England dan Bank of Jepang. Mereka diprediksi akan menaikkan suku bunga karena kenaikan harga minyak mentah berdampak terhadap inflasi,” bebernya.