Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengajak generasi muda untuk memanfaatkan ruang digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai kebangsaan dan memperkuat semangat persatuan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Ajakan tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Mabadi’ul Ihsan, Karangdoro, Banyuwangi, dikutip Jumat (19/6/2026).
“Generasi muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi digital. Mereka harus menjadi trendsetter digital yang mampu menciptakan konten positif, menyebarkan semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong, serta menjadi aktor utama dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan yang mengusung tema Trendsetter Digital dan Aktor Utama Pancasila tersebut diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari kalangan pendidik, mahasiswa, pengurus pesantren, hingga tenaga kependidikan dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Mabadi’ul Ihsan.
Dalam pemaparannya, Mufti Anam menekankan pentingnya penguatan karakter kebangsaan di tengah perkembangan teknologi digital dan media sosial yang semakin pesat.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Selain membawa banyak manfaat, perkembangan teknologi juga membuka ruang bagi penyebaran informasi menyesatkan, ujaran kebencian, hingga paham-paham yang berpotensi mengancam persatuan bangsa.
Ia menjelaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus diperkuat sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Mufti, ancaman terhadap persatuan bangsa saat ini tidak hanya hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui penyebaran hoaks, disinformasi, serta paham radikalisme yang berkembang di ruang digital.
“Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda harus menjadi benteng nilai-nilai kebangsaan. Pancasila harus hadir dalam cara kita bermedia sosial, berdiskusi, menghargai perbedaan, dan membangun kolaborasi untuk kemajuan bangsa,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan, Muhammad Ali Wafa, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan generasi muda yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi digital.
Ia berharap kegiatan sosialisasi tersebut mampu meningkatkan kesadaran peserta dalam memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi forum sosialisasi, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran bersama bahwa pemanfaatan teknologi harus dibarengi dengan penguatan karakter kebangsaan. Pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan seluruh elemen pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang unggul secara intelektual, berakhlak, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai isu terkait literasi digital, pendidikan karakter, serta peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa di era transformasi digital.
Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktivitas bermedia sosial sebagai bagian dari upaya memperkuat karakter kebangsaan di era digital.