Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, menyerukan empat rekomendasi strategis untuk menyelamatkan ekosistem laut dunia dalam Our Ocean Conference (OOC) ke-11 yang berlangsung di Mombasa, Kenya, pada 17–19 Juni 2026. Menurutnya, laut memiliki peran vital bagi keberlangsungan kehidupan manusia sekaligus menjadi fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
“Lautan yang menutupi 72 persen Bumi ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal kelangsungan peradaban manusia,” kata Prof. Rokhmin, dikutip Senin (22/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi pleno bertema Pembangunan Ekonomi Biru Berkelanjutan pada konferensi internasional yang untuk pertama kalinya digelar di benua Afrika. Konferensi tingkat tinggi tersebut dihadiri lebih dari 4.000 peserta dari lebih dari 100 negara yang terdiri atas kepala negara, menteri, anggota parlemen, ilmuwan, peneliti, investor, pemimpin bisnis, bankir, perwakilan organisasi masyarakat sipil, hingga jurnalis.
Our Ocean Conference ke-11 mengusung tema “Our Ocean, Our Heritage, and Our Future” yang menempatkan laut sebagai warisan sekaligus penentu masa depan peradaban dunia. Upacara pembukaan konferensi diresmikan langsung oleh Presiden Kenya pada Rabu (17/6/2026).
Indonesia turut berpartisipasi aktif melalui delegasi yang dipimpin Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Delegasi Indonesia juga diikuti Prof. Rokhmin Dahuri dan Rina Saadah dari Komisi IV DPR RI, Dirjen Penataan Ruang Laut, staf khusus kementerian, ilmuwan, serta perwakilan lembaga swadaya masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa pesisir dan lautan merupakan penopang utama kehidupan manusia. Selain mendukung ketahanan pangan dan energi, laut juga berperan dalam pengembangan industri farmasi, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Secara ekologis, laut memiliki fungsi penting dalam menyerap karbon, mengatur siklus hidrologi, menjaga siklus biogeokimia, serta menopang keberlangsungan sistem kehidupan di bumi. Namun, ia mengingatkan bahwa ekosistem laut dan pesisir dunia saat ini menghadapi berbagai ancaman serius.
Ancaman tersebut meliputi polusi laut, penangkapan ikan berlebih (overfishing), praktik Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing), degradasi ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, serta dampak perubahan iklim. Menurutnya, Indonesia juga menghadapi tantangan yang sama sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk membalikkan kondisi tersebut.
Untuk itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 tersebut menyampaikan empat rekomendasi utama kepada komunitas internasional.
Pertama, menerapkan prinsip ekonomi biru berkelanjutan melalui rehabilitasi ekosistem yang rusak, penataan ruang laut yang terintegrasi, pemanfaatan sumber daya terbarukan secara optimal, pengelolaan sumber daya tak terbarukan secara bertanggung jawab, pengembangan wisata bahari berkelanjutan, penerapan teknologi nirlimbah dan rendah emisi, pengendalian polusi, serta peningkatan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim dan bencana.
Kedua, memperkuat riset dan inovasi kelautan dengan meningkatkan investasi pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan.
Ketiga, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui pendidikan, pelatihan vokasi, dan berbagai program peningkatan keterampilan guna memperkuat kesejahteraan dan ketangguhan masyarakat pesisir.
Keempat, mendorong kolaborasi internasional yang lebih kuat di bidang pendidikan, penelitian, investasi, perdagangan, serta keamanan maritim untuk mewujudkan pengelolaan laut yang berkelanjutan.
Konferensi OOC ke-11 juga membahas enam isu utama, yakni pembangunan ekonomi biru berkelanjutan, perikanan dan akuakultur berkelanjutan, kawasan konservasi dan perlindungan laut, perubahan iklim dan laut, polusi laut, serta keamanan maritim.
Pemilihan Mombasa sebagai tuan rumah dinilai memiliki makna simbolis karena Afrika memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, sementara banyak komunitas pesisir di kawasan tersebut masih menghadapi kerentanan akibat perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya laut.
Konferensi ditutup dengan sejumlah komitmen global, termasuk pendanaan baru untuk sektor kelautan, perluasan kawasan konservasi laut, serta penguatan pengawasan terhadap praktik IUU Fishing. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, forum ini menjadi panggung penting untuk memperkuat kepemimpinan dalam isu ekonomi biru dan diplomasi maritim global.