JAKARTA, Detiktoday.com – Emas terus menjadi pilihan aset safe haven yang menarik minat investor, meski penurunan harga mendorongnya mendekati level US$ 4.000 per troy ounce.
Dikutip dari CNBC International, Senin (22/6/2026) riset Federal Reserve Chicago mengungkapkan bahwa investor menganggap emas sebagai pelindung terhadap masa-masa ekonomi yang lemah.
Sebagai investasi safe-haven, emas dinilai cenderung berkinerja baik ketika suku bunga rendah dan selama periode ketidakpastian geopolitik dan sektor keuangan.
Laporan strategi investasi terbaru Wells Fargo Investment Institute juga memperkirakan pembelian emas akan terus berlanjut di antara bank-bank sentral global. Meningkatnya ketegangan geopolitik juga diyakini akan mendukung pertumbuhan permintaan logam mulia.
Meskipun harga emas sudah tinggi, penasihat keuangan umumnya merekomendasikan untuk membatasi eksposur emas hingga kurang dari 3% dari keseluruhan portofolio.
Anggota CNBC Financial Advisor Council, duQuesnay, mengatakan bahwa ia tidak memiliki emas dalam portofolio yang ia kelola untuk kliennya, sebagian karena sifat temperamental dari investasi yang sedang tren.
“Apakah kita berada di babak ketiga dari reli? Emas dihargai sebagai komoditas, dan itu bisa menyulitkan untuk menentukan fundamentalnya,” katanya.
Adapun Blair duQuesnay, seorang analis keuangan terakreditasi dan perencana keuangan bersertifikat, merekomendasikan eksposur investasi emas melalui dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang melacak harga emas fisik, sebagai bagian dari portofolio yang terdiversifikasi.
“ETF emas akan menjadi cara yang paling likuid, efisien pajak, dan berbiaya rendah untuk berinvestasi dalam emas,” kata duQuesnay.