Emas Tertekan Akibat Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS

Emas Meredup, Deutsche Bank Pangkas Prediksi Harga hingga 22%

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Deutsche Bank AG secara resmi memangkas prediksi harga emas global hingga 22%. Langkah ini diambil seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta menyusutnya minat investasi pada logam mulia tersebut.

Analis riset Deutsche Bank Michael Hsueh, dalam laporan tertulisnya, menjelaskan harga emas batangan kini diperkirakan berada di level US$ 4.300 per ons pada kuartal III-2026. Angka ini turun lebih dari seperlima dari proyeksi sebelumnya sebagaimana dipantau Bloomberg internasional, Selasa (23/6/2026).

Sementara itu, untuk tiga bulan terakhir tahun ini (kuartal IV-2026), target harga dipangkas sebesar 17% ke level US$ 4.800 per ons.

Meski target baru ini diturunkan, Deutsche Bank menilai harga emas sebenarnya masih berpotensi naik dari level saat ini yang berada di kisaran US$ 4.140 per ons. Hanya saja, tren penguatannya tidak akan sekuat perkiraan sebelumnya.

Langkah Deutsche Bank ini menyusul kebijakan serupa yang diambil oleh Goldman Sachs Group Inc. Pekan lalu, Goldman Sachs memotong prediksi akhir tahunnya sebesar US$ 500 menjadi US$ 4.900 per ons, karena melihat tidak adanya peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini.

Kebijakan The Fed Jadi Pemicu Utama

Sepanjang kuartal ini, harga emas telah merosot lebih dari 11%. Konflik di Timur Tengah yang sempat melonjakkan harga energi memicu ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat masih akan berlanjut.

Dalam pertemuan terakhirnya, para pejabat The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan, namun mulai memberikan sinyal kuat akan adanya kenaikan di masa depan. Ditambah lagi, Ketua The Fed Kevin Warsh yang baru menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga (menekan inflasi).

“Penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed, dikombinasikan dengan data makroekonomi AS yang solid, menjadi faktor utama yang menekan harga emas ke bawah,” kata Hsueh, Selasa.

Ia menambahkan, target kuartal keempat didasarkan pada asumsi The Fed akan terus menahan suku bunga. Namun, jika terjadi tiga hingga empat kali kenaikan suku bunga lagi, harga emas diprediksi bisa anjlok hingga ke level US$ 3.800 per ons.

Sepi Peminat, Kecuali Bank Sentral

Lesunya pasar emas juga terlihat dari aksi jual yang terus berlanjut pada dana penukaran saham berbasis emas (gold-backed ETF). Hal ini, menurut Hsueh, menandakan dukungan pasar yang biasanya menyokong harga emas kini menghilang. Di sisi lain, harga emas domestik di China yang lebih murah dibanding bursa Comex mengindikasikan aktivitas impor dari negara tersebut tidak akan mampu mendongkrak pasar.

Meski demikian, masih ada secercah harapan bagi komoditas ini. “Satu-satunya pilar yang tetap kokoh adalah tingginya permintaan dari bank-bank sentral dunia, dan kami memperkirakan kondisi ini masih akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan,” pungkas Hsueh.

Sebagai informasi, emas secara tradisional dikenal sebagai aset aman (safe haven) yang menjadi buruan investor saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau ketegangan geopolitik.

Namun, daya tarik emas sangat sensitif terhadap tingkat suku bunga. Emas tidak memberikan imbal hasil (seperti bunga atau dividen), pergerakan suku bunga yang tinggi cenderung membuat investor beralih ke aset lain seperti obligasi pemerintah AS atau mata uang Dolar. Akibatnya, ketika bank sentral mengisyaratkan kebijakan moneter yang lebih ketat, harga emas dunia biasanya akan mengalami tekanan koreksi yang cukup signifikan.

Share