JAKARTA, Detiktoday.com – Analis kembali memangkas proyeksi harga emas seiring ketidakpastian seputar geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (24/6/2026) bank asal Kanada, BMO Capital Markets memproyeksi harga emas akan kembali melesat ke level US$ 4.625 per troy ounce pada paruh kedua tahun ini.
Namun angka tersebut turun 5% dari perkiraan harga emas sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), harga emas spot ditutup ambles 1,94% menjadi US$ 4.110,11 per troy ounce.
“Kami masih melihat ruang untuk pemulihan harga emas jika penurunan harga minyak terus berlanjut, yang mendukung pemulihan permintaan pasar negara berkembang,” ungkap para analis di BMO Capital Markets.
Meski terus mengalami penurunan, BMO Capital Markets mempertahankan proyeksi harga emas di atas US$ 5.000 per troy ounce pada kuartal pertama tahun 2027, dengan harga yang diproyeksikan rata-rata sekitar US$ 4.200 per troy ounce hingga kuartal kedua dan ketiga tahun depan.
“Meskipun sentimen jangka pendek mungkin tetap terkait dengan volatilitas makro dan perkembangan geopolitik, kami percaya sektor ini berada pada posisi untuk mendapatkan kembali momentum seiring stabilnya kondisi,” kata para analis di BMO.
“Namun, risiko tetap ada seputar eskalasi yang berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya gangguan terhadap pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi dan suku bunga,” bebernya.
Menurut BMO, ancaman tekanan jangka pendek dan terbesar terhadap harga emas adalah kebijakan moneter AS, karena pasar mulai secara agresif memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Meskipun Federal Reserve mempertahankan suku bunga tidak berubah selama pertemuan kebijakan moneter terbarunya, bank sentral AS tersebut memberi sinyal dukungan untuk setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, karena perang di Iran telah mendorong lonjakan harga energi serta kekhawatiran inflasi. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menekankan fokusnya pada stabilitas harga.
“Untuk saat ini, pemotongan suku bunga masih jauh, dengan banyak ekonomi memang menaikkan suku bunga, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap sama, yang bertindak sebagai faktor makro yang meredam bagi logam mulia,” jelas para analis.