Pasukan Ritel Menyusut, Pasar Bitcoin (BTC) Kembali Rapuh

Pasukan Ritel Menyusut, Pasar Bitcoin (BTC) Kembali Rapuh

Share
Share

NEW YORK, Detiktoday.com – Upaya bertahun-tahun Bitcoin untuk lepas dari citra sebagai semacam tempat bermain bagi spekulan ritel kini menghadapi dilema baru. Gelombang aksi jual terakhir menunjukkan sebuah konsekuensi besar.

Masuknya Wall Street memang membawa skala pasar yang masif dan legitimasi. Tetapi di sisi lain, para pembeli ritel yang dulunya setia menopang harga saat terjadi penurunan tajam kini telah lenyap, lapor Bloomberg internasional, Kamis (25/6/2026).

Mata uang kripto orisinal ini sempat menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir pada perdagangan Selasa (23/6/2026), dan bergerak stagnan di kisaran US$ 62.800. Angka tersebut mencerminkan penurunan sekitar 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah dicapai pada Oktober 2025.

Menurut analisis dari Deutsche Bank AG, penurunan kali ini berbeda dengan siklus bearish sebelumnya.

Kolam pembeli ritel baru sebagian besar telah mengering, tepat di saat permintaan dari sektor institusional mulai kehilangan momentumnya. Alih-alih mengamankan aset mereka ke dalam bentuk uang tunai (cash), banyak investor yang beralih (rotasi) ke instrumen investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), sehingga menyedot modal keluar dari aset digital.

“Pembeli marjinal saat ini bukan lagi investor ritel, melainkan pengelola alokasi ETF atau korporasi dan investor yang sama ini semakin sering membandingkan nilai Bitcoin dengan AI. Ketika para pelaku pasar ini menarik diri atau memindahkan modalnya ke sektor lain, penurunan harga terjadi lebih cepat dan mekanis dibandingkan siklus terdahulu yang digerakkan oleh ritel,” ujar analis riset di Deutsche Bank Marion Laboure, Kamis.

Efek Sentimen Hawkish The Fed dan Arus Keluar ETF

Pergeseran minat ini terjadi bersamaan dengan langkah Federal Reserve (The Fed) yang mengadopsi sikap lebih agresif (hawkish). Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan akan ada dua kali tambahan kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Kebijakan ketat ini mengancam akan membalikkan arus likuiditas yang selama beberapa tahun terakhir menjadi bahan bakar penyokong aset-aset berisiko.

Laboure mencatat, para investor telah menarik dana lebih dari US$ 6 miliar dari dana tebusan investasi (ETF) yang melacak harga Bitcoin.

Ini menjadi tren arus keluar (outflows) terpanjang sejak 2024. Permintaan terhadap ETF kini telah menjadi penggerak utama dalam pergerakan harga Bitcoin, yang berarti penarikan dana massal tersebut akan melipatgandakan penurunan harga, sama seperti ketika aliran dana masuk memicu reli kenaikan di masa lalu.

Perubahan struktur pasar ini juga mengubah cara pasar merespons berita buruk. Langkah Strategy Inc. yang menjual 32 Bitcoin pada awal bulan ini, penjualan pertama mereka sejak 2022, kembali memicu kekhawatiran bahwa pemegang korporasi dengan leverage tinggi pada akhirnya bisa berbalik menjadi penjual alih-alih pembeli.

Meskipun volume transaksi tersebut terbilang kecil dibanding total kepemilikan perusahaan, langkah ini membawa beban simbolis yang berat bagi psikologis pasar.

Apalagi, harga Bitcoin saat ini ditransaksikan di bawah rata-rata biaya pembelian Strategy Inc. yang berada di angka US$75.699. Pasar pun mulai memperhitungkan risiko adanya potensi penjualan paksa (forced selling) oleh pemegang korporasi yang menggunakan dana pinjaman.

Daya Tarik Infrastruktur AI

Deutsche Bank juga berargumen modal yang keluar dari sektor kripto kini telah menemukan rumah baru yang menjanjikan, alih-alih hanya mengendap di pinggir lapangan. Perusahaan teknologi raksasa (hyperscalers) di AS diperkirakan akan menggelontorkan dana lebih dari US$ 700 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini.

Jika pergeseran modal ini terbukti bersifat struktural dan jangka panjang, maka tekanan terhadap permintaan kripto bisa berlangsung lebih lama dari penurunan di masa-masa lalu.

Di sisi lain, pelaku pasar kini tengah menantikan katalis positif dari Gedung Putih untuk membalikkan arah pergerakan harga. Steve Kurtz, global co-head aset digital di Galaxy, menyatakan bahwa para pengamat pasar sedang menunggu kejelasan dari Undang-Undang Kejelasan (Clarity Act).

Regulasi tersebut nantinya akan menetapkan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) sebagai regulator utama untuk sebagian besar industri kripto, sementara Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) akan tetap memegang otoritas atas sekuritas digital.

Namun, Kurtz menambahkan situasi politik di Washington DC saat ini sangat taktis dan dinamis, sehingga pasar diproyeksikan akan tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.

Pada masa-masa awal kemunculannya hingga reli besar pada 2017 dan 2021, pasar Bitcoin didominasi oleh investor ritel, individu yang didorong oleh antusiasme komunitas, narasi desentralisasi, dan spekulasi mandiri. Investor ritel ini memiliki karakteristik psikologis yang cenderung menahan aset dalam jangka panjang (holding) karena keyakinan ideologis, sehingga sering kali bertindak sebagai “jaring pengaman” yang menyerap tekanan jual saat pasar ambruk.

Namun, peta jalan industri kripto berubah secara drastis sejak akhir 2023 dan awal 2024 menyusul restu regulasi terhadap peluncuran produk ETF Bitcoin Spot di bursa saham AS. Masuknya raksasa Wall Street seperti BlackRock dan Fidelity mengubah struktur likuiditas Bitcoin secara mekanis.

Kini, Bitcoin tidak lagi bergerak murni karena sentimen komunitas kripto, melainkan berperilaku seperti saham pertumbuhan makro yang kinerjanya sangat terikat pada arus modal institusi, kebijakan suku bunga bank sentral, serta harus berebut likuiditas global dengan sektor teknologi mutakhir seperti AI.

Share