Efek Domino Gubernur Baru The Fed: Emas, Perak, Bitcoin (BTC) Kompak TumbangEfek Domino Gubernur Baru The Fed: Emas, Perak, Bitcoin (BTC) Kompak Tumbang

Efek Domino Gubernur Baru The Fed: Emas, Perak, Bitcoin (BTC) Kompak TumbangEfek Domino Gubernur Baru The Fed: Emas, Perak, Bitcoin (BTC) Kompak Tumbang

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Rapat perdana Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bawah kepemimpinan Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, merealisasikan ketakutan terbesar pasar.

Harga emas, perak, dan Bitcoin (BTC) serentak anjlok seiring melonjaknya nilai tukar dolar AS akibat munculnya ekspektasi baru suku bunga berpotensi naik sebelum 2026 berakhir.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada 17 Juni 2026 tersebut, The Fed sebenarnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (Federal Funds Rate) di kisaran yang sesuai prediksi pasar. Namun, yang mengejutkan dan belum diantisipasi oleh pelaku investasi adalah perubahan drastis pada proyeksi internal bank sentral itu sendiri.

Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan satu kenaikan suku bunga pada 2026, meskipun prospek tersebut rumit karena tidak adanya perkiraan dari Ketua Kevin Warsh.

Sembilan dari 18 pejabat memroyeksikan suku bunga dana federal akan berakhir pada 2026 di atas kisaran saat ini yaitu 3,5% hingga 3,75%, menurut laporan CNBC internasional pada 18 Juni 2026. Namun, proyeksi tersebut melewatkan satu peserta dan Warsh mengkonfirmasi dalam konferensi pers bahwa ia menahan diri untuk tidak memberikan proyeksi sendiri.

Pergeseran pandangan ini otomatis mengerek prospek median suku bunga akhir tahun dari yang sebelumnya 3,4% menjadi 3,8%. Sikap agresif (hawkish) yang ditunjukkan oleh The Fed ini langsung memicu guncangan hebat pada pasar aset tanpa imbal hasil (non-yielding assets) dalam hitungan menit hingga hari-hari setelah rapat berlangsung.

Rincian Pergerakan Harga Aset Pasca Rapat

1. Bitcoin (BTC) Terperosok

Menjelang pengumuman, Bitcoin sempat bertahan kuat di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 66.000 seperti dipantau Crypto Briefing, Kamis (25/6/2026). Namun, begitu sinyal kebijakan ketat dari Warsh mulai terserap oleh pasar, harganya langsung merosot sekitar 2% hingga 4% ke kisaran US$ 63.850 hingga US$ 65.300.

Penurunan sekitar US$ 1.200 ini mungkin terlihat tidak terlalu ekstrem bagi komoditas kripto, namun kecepatan koreksi dan faktor pemicunya menjadi perhatian utama para investor.

Tekanan jual akibat penguatan dolar AS terus berlanjut sebagai dampak lanjutan sepekan setelah rapat. Menjelang akhir Juni 2026, Bitcoin bahkan tersungkur hingga jatuh di bawah level psikologis US$ 60.000 untuk pertama kalinya sejak akhir 2024.

Pergerakan ini kembali menegaskan realitas yang sering kali dilupakan oleh para trader kripto, yakni Bitcoin sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan The Fed. Ketika dolar AS menguat karena ekspektasi pengetatan moneter, aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti Bitcoin cenderung menderita karena tidak memberikan bunga maupun dividen.

Di tengah kondisi global saat tunai (cash) memberikan keuntungan yang lebih tinggi, biaya peluang (opportunity cost) untuk mempertahankan aset kripto menjadi jauh lebih mahal.

2. Emas Menembus Level Terendah 7 Bulan

Emas mengalami aksi jual massal yang signifikan akibat terkikisnya narasi debasement trade (investasi pelindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang).

Seminggu setelah rapat perdana Warsh, harga emas merosot tajam hingga menembus ke bawah level US$ 4.000 per ons. Ini merupakan level terendah emas dalam tujuh bulan terakhir, membalikkan tren reli rekor yang sempat menyentuh angka kisaran US$ 5.600 per ons pada awal 2026.

3. Perak Ikut Ambrol

Perak mengikuti cetak biru kejatuhan emas akibat hilangnya daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga di tengah potensi kenaikan suku bunga AS. Harga perak ambrol hingga menembus ke bawah level psikologis US$60 per ons untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir.

Penurunan ini kian kontras mengingat perak sempat mencatatkan lonjakan luar biasa hingga melewati US$ 121 per ons sebelum era kepemimpinan Warsh dimulai.

Share