Detiktoday.com, KAPUAS HULU – Terletak di ujung paling timur Kabupaten Kapuas Hulu, Desa Riam Tapang, Kecamatan Silat Hulu seperti “terlupakan”. Jalan poros berdebu, jembatan mangkrak, dan satu-satunya akses alternatif adalah sungai yang sangat ekstrem.
Kondisi itu kembali disuarakan warga Petrus Malaban, Rabu (26/8/2026). Ia mendesak pemerintah segera membangun Jalan Poros Riam Tapang – Landau Kumpang dan Jembatan Beton Sungai Pengga di ruas Nanga Ngeri – Riam Tapang yang sudah terbengkalai puluhan tahun.
“Ini Poros Riam Tapang – Landau Kumpang. Nanga ngeri – Riam Tapang Jembatan beton sungai Pengga di jalan Poros Nanga Ngeri – Riam Tapang udah lama terbengkalai hanya pondasi kiri kanan saja, ” kata Petrus.
Dengan nada geram, Petrus meminta para pejabat menepati janji kampanye. Ia menyebut warga sudah 30 tahun hanya dijanjikan.
“Segera melaksanakan janji kampanye, karena 2029 sudah dekat biar kami tidak terus makan Debu kampanye ‘Manis tapi Tajam,” tegas mantan kades dua periode ini.
“Minta di tangani segera jalan dan Jembatan, karena sudah makan janji para calon dan para pemangku jabatan terutama DPR RI, DPRD PROV, DPRD KAB, PRESIDEN, GUBERNUR DAN BUPATI dari tahun 1992,” lanjutnya.
Yang membuat situasi semakin parah, wilayah Riam Tapang terletak diujung Sungai Silat dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sintang dan Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketika jalan darat rusak, warga tidak punya pilihan lain selain menggunakan jalur sungai. Namun saat musim kemarau, air sungai surut drastis dan arus menjadi sangat berbahaya.
“Lewat sungai sangat ekstrim apalagi musim kemarau karena terletak di ujung Sungai Silat. Berbatasan dengan kabupaten Sintang, Kalteng,” ujar Petrus.
Artinya, saat kemarau tiba warga seperti terkurung. Mau ke kota harus bertaruh nyawa di sungai dangkal berbatu. Mau mengangkut hasil kebun pun tidak bisa maksimal.
Ditambah kondisi jalan yang rusak, biaya transportasi menjadi mahal dan waktu tempuh berlipat ganda. Dampaknya langsung ke harga sembako, pendidikan anak, hingga rujukan kesehatan.
Petrus juga menyinggung kemungkinan pembangunan infrastruktur di wilayahnya tertunda karena anggaran difokuskan ke program lain.
“Sebenarnya ada kaitan karena ada MBG dan KDMP dana insprastruktur ikut terkuras,” katanya.
Meski begitu ia tetap berharap pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten memprioritaskan pembangunan di wilayah perbatasan.
“Kami ini wilayah perbatasan. Kalau infrastruktur kami tidak dibangun, bagaimana mau maju? Jangan sampai kami terus tertinggal,” ujarnya.
Petrus menutup dengan harapan besar agar suara warga ujung Sungai Silat ini didengar.
“Kami tidak minta muluk-muluk. Bangun jalan yang layak, selesaikan jembatan Sungai Pengga. Kami sudah 30 tahun menunggu. Jangan jadikan kami hanya tempat cari suara saat pemilu saja,” pungkas Petrus Malaban.