JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diprediksi bergerak dalam rentang US$ 4.301 per troy ounce sampai US$ 4.768 per troy ounce untuk sepekan ke depan.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas dunia pada Sabtu lalu ditutup di US$ 4.539 per troy ounce.
“Jika naik, resistance pertama di US$ 4.642 per troy ounce. Jika turun, support pertama di US$ 4.434 per troy ounce,” kata ahli emas tersebut dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).
Ibrahim menjelaskan, untuk sepekan ke depan, jika harga emas turun, support kedua di US$ 4.301 per troy ounce. Kalau naik, resistance kedua di US$ 4.768 per troy ounce.
Faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas dunia, terutama faktor geopolitik. Ibrahim mengatakan, faktor geopolitik terlihat dari konflik yang belum selesai di Selat Hormuz.
Meski begitu, keputusan untuk kesepakatan damai sudah ada di tangan Presiden AS Donald Trump yang kemungkinan besar dalam pekan ini akan diumumkan.
Ibrahim menjelaskan, Inggris melalui badan operasi perdagangan maritim juga memperingatkan terhadap dunia internasional bahwa blokade militer di pelabuhan Iran masih berlaku sehingga membatasi lalu lintas masuk dan keluar.
Walaupun banyak kapal yang sudah mendapatkan izin keluar dari Iran melalui Selat Hormuz, tetapi di laut internasional ini kapal-kapal yang sudah keluar dari Selat Hormuz juga disuruh kembali lagi ke dalam, masuk ke Selat Hormuz.
Menurutnya, hal ini yang membuat transportasi masih akan tersedat sehingga membuat inflasi akan tetap tinggi.
Inflasi tinggi akan mempengaruhi Bank Sentral Amerika untuk tetap mempertahankan suku bunga, bahkan akan menaikkan suku bunga satu kali.
Harga-harga di Amerika, terutama gasolin terus mengalami kenaikan, ini yang berdampak terhadap inflasi sehingga inflasi tinggi akan berdampak terhadap pernyataan dari Bank Sentral Amerika yang kemungkinan besar dalam pertemuan Juni masih akan mempertahankan suku bunga tinggi.
“Ini sebenarnya yang membuat dolar menguat cukup tajam. Di sisi lain pun juga pada saat harga emas dunia maupun logam mulia mengalami penurunan, ini adalah kesempatan bagi Bank Sentral Global untuk membeli logam mulia secara besar-besaran,” tambahnya.
Ibrahim mengatakan, perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz kemungkinan besar akan selesai, dan ini akan dimanfaatkan oleh para investor untuk mengoleksi logam mulia.
Sedangkan, tensi geopolitik masih akan panjang terutama di Eropa antara Rusia dan Ukraina kemudian di Timur Tengah antara Israel, Libanon dengan Hamas, Palestina yang kemungkinan besar sampai tahun 2027 akan terus terjadi.
Menurutnya, hal itu yang akan membuat harga emas dan logam mulia terjadi fluktuasi, rupiah pun juga mengalami pelemahan.