JAKARTA, Detiktoday.com – Aksi jual emas dalam jumlah besar diduga dilakukan oleh Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI). Berdasarkan analisis Bloomberg Economics, RBI kemungkinan melepas cadangan emas senilai sekitar US$ 12 miliar atau setara Rp 214,44 triliun (kurs, Rp 17.870) hanya dalam kurun waktu dua pekan hingga 22 Mei 2026 untuk menopang nilai tukar rupee yang tertekan.
Dikutip dari Kitco, selain menjual emas, RBI diperkirakan membeli aset valuta asing senilai US$ 7,5 miliar pada periode yang sama. Langkah tersebut diduga dilakukan untuk memperkuat cadangan devisa yang lebih likuid di tengah tekanan akibat arus keluar modal dan lonjakan harga energi.
Ekonom Senior Bloomberg Economics untuk India Abhishek Gupta menyimpulkan, dugaan tersebut berdasarkan data publik yang menunjukkan penurunan nilai cadangan emas RBI. Padahal, kenaikan bea masuk logam mulia yang baru diberlakukan seharusnya meningkatkan nilai kepemilikan emas bank sentral tersebut.
RBI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Bloomberg Economics menilai dugaan penjualan emas itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran otoritas India terhadap dampak perang di Timur Tengah yang berkepanjangan. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dan memperbesar tekanan terhadap mata uang rupee.
“Langkah tersebut menunjukkan RBI memprioritaskan cadangan mata uang asing yang lebih likuid di tengah tekanan terhadap rupee dan pelebaran defisit transaksi berjalan,” tulis Bloomberg Economics dalam laporannya.
India merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia. Kenaikan harga energi akibat konflik Iran dan terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz telah meningkatkan kebutuhan devisa negara tersebut sekaligus menekan nilai tukar rupee.
Stabilitas Mata Uang