Jakarta, Detiktoday.com – Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menilai anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani sesaat setelah pengumuman pembentukan BUMN ekspor komoditas strategis oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan cerminan kekagetan pasar terhadap arah baru kebijakan tata kelola ekspor nasional.
Menurut Elvi, pasar bereaksi cepat karena kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN dinilai mengubah mekanisme perdagangan yang selama ini berjalan berbasis persaingan antar pelaku usaha. Akibatnya, muncul kekhawatiran di kalangan industri dan eksportir mengenai potensi perubahan rantai distribusi, kepastian transaksi, hingga pembentukan harga di tingkat global.
“Pasar dasarnya sangat sensitif terhadap perubahan regulasi, terlebih yang menyangkut tata niaga ekspor komoditas strategis seperti sawit. Ketika pemerintah mengumumkan pembentukan BUMN ekspor sebagai pengekspor tunggal, pelaku pasar langsung membaca adanya potensi perubahan besar dalam mekanisme perdagangan. Respons spontan itulah yang kemudian tercermin dalam penurunan harga TBS sawit di tingkat petani,” ujar Elvi di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Ia menyoroti adanya ketimpangan antara penurunan harga crude palm oil (CPO) dan anjloknya harga TBS petani. Berdasarkan data yang beredar di kalangan industri sawit, harga CPO hanya turun sekitar Rp450 hingga Rp600 per kilogram, sedangkan harga TBS petani menurut data Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) justru merosot hingga Rp800 sampai Rp1.000 per kilogram.
Menurut Elvi, selisih penurunan yang terlalu lebar tersebut menunjukkan adanya kepanikan pasar dan praktik penyesuaian harga yang dilakukan terlalu agresif oleh sebagian pelaku industri.
“Kalau penurunan harga TBS jauh lebih dalam dibanding penurunan CPO, berarti ada faktor psikologis pasar dan kekhawatiran rantai bisnis yang sedang bekerja. Ini bukan semata persoalan fundamental harga global, tetapi juga persoalan ekspektasi dan persepsi terhadap arah kebijakan pemerintah,” katanya.
Elvi menilai pemerintah sebenarnya memiliki niat baik untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar dunia melalui pengendalian tata kelola ekspor. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan strategis semacam itu membutuhkan transisi yang jelas dan komunikasi yang matang agar tidak menimbulkan gejolak di pasar domestik.
Sebelumnya, Presiden Prabowo mengumumkan penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam yang mewajibkan ekspor komoditas tertentu dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah sebagai pengekspor tunggal. Kebijakan itu akan diterapkan pada komoditas minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy.
Tak lama setelah pengumuman tersebut, sejumlah daerah sentra sawit melaporkan penurunan harga pembelian TBS oleh pabrik kelapa sawit (PKS). Beberapa PKS dilaporkan memangkas harga pembelian antara Rp200 hingga Rp500 per kilogram, sementara di sejumlah wilayah penurunan harga TBS petani bahkan mencapai Rp800 sampai Rp1.000 per kilogram.
Elvi mengingatkan agar pemerintah segera memberikan kepastian teknis mengenai implementasi kebijakan tersebut, termasuk mekanisme pembentukan harga, skema pembayaran ekspor, dan perlindungan terhadap harga TBS petani swadaya.
“Jangan sampai pasar membaca kebijakan ini sebagai bentuk sentralisasi yang menimbulkan ketidakpastian baru. Pemerintah harus memastikan tata niaga baru justru meningkatkan efisiensi dan memperkuat posisi tawar Indonesia, bukan malah menciptakan kepanikan yang akhirnya merugikan petani,” ujar Elvi.
Ia juga menilai stabilitas harga TBS sawit sangat penting karena berkaitan langsung dengan daya beli jutaan keluarga petani sawit di berbagai daerah. Karena itu, menurutnya, setiap perubahan kebijakan ekspor harus memperhatikan dampak psikologis maupun ekonomi terhadap rantai pasok domestik.
“Pasar komoditas bekerja berdasarkan kepercayaan. Ketika pelaku pasar merasa ada kepastian dan transparansi, harga akan kembali stabil. Tetapi jika muncul ketidakjelasan, maka yang pertama terkena dampak biasanya justru petani di lapangan,” katanya.