Secara valuasi, banyak saham Indonesia sudah memasuki area yang sangat murah. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, maupun Kelompok Barito yang menjadi motor penggerak hari ini sudah mengalami koreksi besar sebelumnya. Rebound dalam kondisi jenuh jual (oversold) seperti ini bukan sesuatu yang aneh.
Namun, pada saat yang sama, kenaikan IHSG hari ini belum menghilangkan beberapa sumber kekhawatiran utama pelaku pasar.
Cost of capital kini justru lebih tinggi setelah BI Rate naik menjadi 5,5%. Rupiah memang berhasil distabilkan sementara, tetapi belum benar-benar pulih. Outflow asing belum berbalik menjadi inflow yang konsisten.
“Dan, yang paling penting, pasar masih menunggu jawaban mengenai arah kebijakan ekonomi jangka panjang Indonesia,” ujar Liza.
Itulah sebabnya mengapa masih terlalu dini untuk menyebut lonjakan IHSG hari ini sebagai titik balik definitif.
Untuk saat ini, lebih bijak melihatnya sebagai sebuah respons terhadap kondisi oversold yang ekstrem, diperkuat oleh kombinasi dukungan kebijakan dan harapan bahwa pemerintah akhirnya mulai menyadari seriusnya kondisi pasar.
Secara teknikal, area 5.430-5.318 kini menjadi support utama IHSG. Sedangkan area 5.900 menjadi target rebound jangka pendek yang perlu diuji terlebih dahulu, sebelum pasar dapat berbicara mengenai pemulihan yang lebih berkelanjutan.
Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan buy and hold jangka panjang yang agresif.
Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, investor juga perlu mengingat bahwa pandangan jangka panjang terhadap Indonesia belum sepenuhnya berubah.
Sejumlah investor global masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan Asean bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Indonesia tetap memiliki keunggulan berupa ukuran ekonomi yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta pasar domestik yang luas.
Masalahnya, bukan apakah Indonesia memiliki potensi pertumbuhan. Masalah yang sedang diperdebatkan pasar saat ini apakah kebijakan yang diambil mampu menjaga kepercayaan investor dan mengubah potensi tersebut menjadi pertumbuhan yang benar-benar dapat dinikmati pemegang modal.
“Kenaikan IHSG hari ini mungkin berhasil mengurangi rasa sakit. Tetapi, pasar masih menunggu bukti apakah obat yang diberikan benar-benar mampu menyembuhkan penyakitnya,” pungkasnya.