JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diprediksi melanjutkan penguatan dalam sepekan ke depan.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berpeluang menguat di resistance pertama US$ 4.779 per troy ons.
“Jika naik lagi, resistance kedua harga emas di US$ 4.832 per troy ons,” kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Namun, harga emas tetap dihantui risiko tekanan, sehingga peluang terjadinya koreksi harga logam mulia tersebut tidak dapat dihindari.
“Jika turun, support pertama harga emas di US$ 4.651 per troy ons dan support kedua US$ 4.560 per troy ons,” papar Ibrahim.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga emas. “Faktor-faktornya adalah geopolitik, kondisi perpolitikan di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, serta kondisi supply and demand,” ujar Ibrahim.
Dari sisi sentimen geopolitik, pasar mengamati pertemuan pejabat AS dan Iran di Pakistan untuk membahas kesepakatan perdamaian.
“Pekan ini akan menjadi akhir bukan yang cukup rusial, karena menentukan apakah akan lanjut terjadi perang atau adanya perdamaian di wilayah Timur Tengah. Pasalnya, kondisi tersebut (menentukan pergerakan) di Selat Hormuz yang sedang ditutup,” Ibrahim menyoroti.
Harga emas juga fluktuatif seiring gejolak politik di AS, setelah Presiden AS Donald Trump membebastugaskan sejumlah pejabat militer di kementerian pertahanan negara itu.
“Adapun kebijakan bank AS yang menjadi perhatian menjelang pergantian ketuanya dari Jerome Powell ke Kevin Warsh. Pada saat nanti harga minyak naik, inflasi tinggi, Kevin Walsh kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga,” paparnya.
“Kemudian tentang masalah supply and demand, kita tahu bahwa negara-negara anggota BRICS sudah kembali membeli emassebagai cadangan devisanya. Kita melihat bahwa negara-negara tersebut mengantisipasi perang (di Timur Tengah) akan panjang. Sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi mereka (menimbun emas),” imbuh Ibrahim.