Bitcoin (BTC) Sempat Sentuh US$ 80.000, Simak 5 Indikator Kritisnya

Bitcoin (BTC) Sempat Sentuh US$ 80.000, Simak 5 Indikator Kritisnya

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Bitcoin (BTC) sempat merebut kembali level psikologis US$ 80.000 pada pembukaan pekan ini. Namun, momentum tersebut segera memudar seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang menekan selera risiko investor.

Pasangan BTC/ USD sempat melonjak ke level tertinggi harian di atas US$ 80.600 awal pekan ini, sebelum tergelincir di bawah US$ 79.000, sebagaimana dipantau laman FXEmpire, Jumat (8/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh laporan konflik di Selat Hormuz yang melibatkan pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun klaim tersebut sempat menuai bantahan.

Berikut adalah lima indikator utama yang wajib dipantau para investor Bitcoin pekan ini:

1. Ancaman Lonjakan Harga Minyak ke US$ 150

Ketegangan di Selat Hormuz, jalur krusial pasokan energi dunia, memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak mentah Brent. Secara historis, terdapat korelasi terbalik yang jelas antara harga minyak dan Bitcoin. Jika harga minyak menembus angka US$ 150 per barel, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung akan tertekan karena inflasi yang meningkat.

2. Pembatalan Pemotongan Suku Bunga Fed hingga 2027

Barclays mengikuti jejak institusi Wall Street lainnya dengan menghapus proyeksi pemotongan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada 2026. Dengan inflasi yang masih di atas 3% dan harga minyak yang tinggi, suku bunga diperkirakan tetap tinggi (higher-for-longer). Hal ini memperkuat dolar AS dan membatasi ruang gerak aset kripto.

3. Level Krusial US$ 81.500 sebagai Target Utama

Bitcoin kini tengah menguji level on-chain kritis di angka US$ 81.500, yang merupakan harga rata-rata pembelian pemegang jangka pendek (short-term holder realized price). Penutupan harian di atas angka ini sangat penting untuk mengubah status hambatan (resistansi) menjadi dukungan (support) menuju target berikutnya di kisaran US$ 87.00092.000.

4. Jeda Pembelian oleh Strategy (MSTR)

Perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, mengumumkan jeda pembelian mingguan menjelang laporan pendapatan kuartal I-2026. Tanpa adanya tekanan beli rutin dari entitas besar ini, pasar Bitcoin menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi arus keluar-masuk ETF dan guncangan makroekonomi.

5. Pola Teknis Rising Wedge Menuju US$ 70.000

Pada grafik harian, Bitcoin membentuk pola rising wedge, yang sering dianggap sebagai sinyal berlanjutnya tren penurunan (bearish). Jika harga gagal bertahan di atas level US$ 76.500, terdapat risiko koreksi lebih dalam menuju zona likuiditas di kisaran US$ 70.800.

Pergerakan harga Bitcoin pada 2026 semakin menunjukkan keterkaitannya yang erat dengan kondisi geopolitik global dan kebijakan moneter AS. Sebagai aset yang sering disebut sebagai “emas digital”, Bitcoin diharapkan menjadi pelindung nilai (hedging), namun dalam praktiknya, BTC masih sangat sensitif terhadap likuiditas pasar global dan sentimen risiko (risk-on/risk-off).

Konflik di Selat Hormuz menjadi titik balik penting karena melibatkan kepentingan ekonomi dua kekuatan besar, AS dan Iran. Penutupan jalur ini tidak hanya mengancam pasokan energi, tetapi juga memicu inflasi global yang memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Di sisi lain, adopsi institusional melalui perusahaan seperti Strategy dan keberadaan ETF Bitcoin telah menciptakan struktur pasar baru yang lebih dewasa, namun tetap tidak kebal terhadap guncangan makroekonomi yang ekstrem. Pemahaman akan indikator on-chain dan sentimen global menjadi kunci bagi investor dalam menavigasi volatilitas tinggi di pasar kripto saat ini.

Share