Harga Bitcoin (BTC) Merosot ke US$ 70.000, Ini Penyebabnya

Bitcoin (BTC) Terperosok di Bawah US$ 60.000, Akhir atau Peluang?

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan tren negatif setelah menembus level psikologis di bawah US$ 60.000. Angka ini merupakan titik terendah sejak akhir 2024. Jika dibandingkan dengan rekor harga tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada 2025 yang mencapai US$ 124.773, Bitcoin kini telah terkoreksi lebih dari 50%.

Meskipun angka penurunannya tampak fantastis, para analis pasar menilai kondisi ini belum menjadi rekor penurunan terburuk dalam sejarah aset kripto tersebut sebagaimana dipantau laman Motley Fool, Selasa (9/6/2026).

Sebagai mata uang digital, nilai Bitcoin tidak didukung oleh aset fisik seperti emas atau kinerja perusahaan seperti saham. Nilainya sangat bergantung pada kepercayaan dan minat pasar untuk memilikinya. Secara teknis, harga Bitcoin bisa saja menyentuh angka nol jika seluruh dunia sepakat untuk tidak lagi membelinya.

Namun, skenario tersebut dinilai sulit terjadi karena Bitcoin kini mulai memiliki fungsi nyata sebagai cadangan mata uang bagi korporasi. Salah satu contoh nyata adalah SpaceX, yang menurut prospektus penawaran umum perdana (IPO) tersebut perusahaan diketahui memegang sebanyak 18.712 Bitcoin. Langkah Elon Musk ini diharapkan dapat menciptakan “lantai harga” atau dukungan stabilitas bagi Bitcoin di masa depan.

Saat ini, investor agresif cenderung berpindah ke instrumen investasi yang sedang tren.

Laporan kuartal pertama 2026 dari broker Robinhood menunjukkan adanya penurunan pendapatan transaksi kripto sebesar 47%, sementara pendapatan dari pasar prediksi (prediction markets) justru melonjak 320%.

IPO SpaceX yang akan datang diperkirakan bakal menyedot perhatian besar.

Mengingat minat pasar yang sangat tinggi (oversubscribed), ada potensi para trader agresif akan menjual aset kripto mereka untuk beralih ke saham SpaceX.

Hal ini kemungkinan akan menekan harga Bitcoin lebih dalam dalam jangka pendek.

Belajar dari Sejarah

Dalam sejarahnya, Bitcoin pernah mengalami penurunan terdalam hingga 83%. Bahkan, penurunan di atas 60% tercatat pernah terjadi sebanyak tiga kali. Jika menggunakan angka historis ini sebagai acuan:

– Penurunan 60% dari harga tertinggi dapat membawa Bitcoin ke kisaran US$ 50.000.

– Penurunan 80% dapat membawa harga ke kisaran US$ 25.000.

Meskipun awan mendung tengah menyelimuti pasar kripto, sejarah mencatat Bitcoin selalu berhasil bangkit ke level tertinggi baru setelah setiap fase penurunan tajam. Meski begitu, tidak ada jaminan pola tersebut akan terulang kembali.

Bitcoin pertama kali diperkenalkan pada 2009 sebagai alternatif mata uang terdesentralisasi. Sejak saat itu, aset ini telah melewati berbagai siklus bullish (penguatan) dan bearish (pelemahan) yang ekstrem. Karakteristik volatilitas tinggi menjadi ciri khas utama Bitcoin yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, regulasi pemerintah, hingga adopsi institusional.

Fenomena penurunan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari siklus pasar yang lumrah, di mana investor harus menyeimbangkan antara spekulasi jangka pendek dan kepercayaan terhadap nilai fundamental teknologi blockchain itu sendiri.

Share