Bumi Resources Ekspansi ke Bisnis Non-Batu Bara

Bumi Resources Ekspansi ke Bisnis Non-Batu Bara

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Strategi transformasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menuju portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi mulai menunjukkan perkembangan positif.

Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen batu bara kini semakin agresif memperluas eksposur ke sektor mineral non-batu bara.

Ekspansi tersebut terlihat dari serangkaian akuisisi strategis yang dilakukan sepanjang akhir 2025. BUMI mengakuisisi 100% tambang konsentrat tembaga Wolfram pada November, disusul akuisisi tambang emas Jubilee Metals pada Desember 2025.

Tambang Wolfram yang berlokasi di Australia tidak hanya menghasilkan konsentrat tembaga, tetapi juga memiliki produk sampingan berupa emas dan perak. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Agustus 2026 dengan kapasitas produksi sekitar 20.000 ton konsentrat tembaga per tahun.

Selain itu, Jubilee Metals yang kini dimiliki sebesar 65% oleh BUMI juga diperkirakan mulai berproduksi pada periode yang sama. Tambang emas ini ditargetkan menghasilkan sekitar 30.000 ounce emas per tahun dengan potensi margin yang kompetitif.

Analis dari Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan menilai kedua aset tersebut akan menjadi pendorong utama perubahan struktur laba BUMI. Ia memproyeksikan kontribusi signifikan dari segmen mineral mulai terlihat pada semester kedua 2026, seiring dimulainya fase produksi komersial.

Di luar tembaga dan emas, BUMI juga memperluas eksposur ke komoditas bauksit melalui akuisisi 45% saham Laman Mining. Tambang ini memiliki cadangan sekitar 30 juta ton dengan target produksi tahunan 3–6 juta ton, memperkuat portofolio komoditas industri perusahaan.

Langkah ekspansi berlanjut dengan rencana akuisisi Loyal Metals (LLM), perusahaan tambang asal Australia, dengan nilai transaksi sekitar Rp977 miliar. Melalui skema Scheme Implementation Deed, BUMI berpotensi menambah aset tembaga dan emas, mempercepat strategi diversifikasi jika seluruh persyaratan terpenuhi.

“Serangkaian aksi korporasi ini mencerminkan eksekusi strategi yang semakin disiplin. BUMI tidak lagi semata bergantung pada batu bara, tetapi mulai membangun fondasi sebagai platform pertambangan multi-komoditas,” katanya dikutip di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Kenny menilai bahwa perusahaan kini berada pada titik transisi penting, dari penghasil arus kas berbasis batu bara menuju entitas dengan kualitas pendapatan yang lebih berimbang dan berkelanjutan.

Dari sisi proyeksi, kontribusi EBITDA non-batu bara diperkirakan meningkat signifikan, dari level satu digit rendah menjadi sekitar 20% pada 2026 dan berpotensi mencapai 40% pada 2027. Tren ini menunjukkan arah menuju komposisi EBITDA yang lebih seimbang dalam jangka menengah.

Seiring dengan perubahan fundamental tersebut, BUMI dinilai berpotensi memberikan re-rating terhadap valuasi saham BUMI. Kenny Shan mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp290 per saham.

Share