Detiktoday.com, KAPUAS HULU – Di ujung perbatasan, satu papan lapuk bisa berarti nyawa melayang. Melihat kondisi jembatan penghubung antar desa di Desa Labian Iraang yang semakin rapuh, Komandan Kodim 1206 Putussibau Letkol Arm Andreas Prabowo Putro, langsung memerintahkan Babinsa Koramil 1206-03/Batang Lupar turun bersama warga.
Selasa 2 Juni 2026, aksi gotong royong perbaikan jembatan digelar. Tidak ada upah, tidak ada paksaan. Hanya ada satu tujuan menyelamatkan warga.
Bagi Dandim 1206 Psb, jembatan bukan sekadar kayu dan paku. jembatan adalah urat nadi kehidupan. Anak sekolah, petani, ibu hamil, hingga lansia melewatinya setiap hari. Jika jembatan roboh, maka akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga terputus.
Dandim Andreas Prabowo Putro menegaskan, kerusakan pada beberapa bagian jembatan tidak bisa dianggap sepele.
“Jembatan yang mulai mengalami kerusakan pada beberapa bagian berpotensi membahayakan pengguna jalan yang melintas setiap hari. Kerusakan kecil hari ini, bisa menjadi tragedi besar besok. Kami tidak menunggu korban dulu baru bergerak,” tegas Dandim saat dikonfirmasi wartawan.
Ia memerintahkan Babinsa untuk segera berkoordinasi dengan kepala desa dan masyarakat. Prinsipnya satu cepat, tepat, dan bersama rakyat.
Di bawah komando Dandim, Babinsa Koramil 1206-03/Batang Lupar bersama warga Desa Labian Iraang bahu-membahu. Mereka mengganti papan yang lapuk, memperkuat konstruksi jembatan, dan membersihkan area sekitar agar tidak licin dan aman dilalui.
“Ini bentuk kepedulian TNI melalui Koramil Batang Lupar terhadap fasilitas umum yang digunakan masyarakat. Selain mencegah kecelakaan, perbaikan ini juga untuk memastikan aktivitas masyarakat berjalan lancar,” jelas Dandim mengutip laporan Babinsa di lapangan.
Dandim menyebut jembatan itu adalah akses penting. Jembatan ini merupakan akses penting bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik untuk keperluan ekonomi, pendidikan maupun sosial.
“Dengan diperbaikinya jembatan ini, diharapkan masyarakat dapat melintas dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Dandim bercerita, bayangkan panasnya matahari Batang Lupar. Babinsa masuk ke aliran sungai, memotong kayu, mengangkat papan. Warga dari rumah tetangga datang membawa paku dan gergaji.
“Tidak ada sekat pangkat, tidak ada jarak antara seragam loreng dan baju kaos warga, “tuturnya.
Itulah kemanunggalan TNI-Rakyat yang sebenarnya. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Dandim Andreas Prabowo Putro menilai, kegiatan ini lebih dari sekadar memperbaiki kayu. Ini adalah membangun semangat.
“Masyarakat mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran Babinsa yang selalu aktif membantu. Keberadaan Babinsa mampu memberikan motivasi dan semangat dalam menumbuhkan budaya gotong royong di tengah masyarakat,” kata Dandim.
Bagi Dandim, gotong royong adalah tameng paling kuat bangsa Indonesia. Di tengah tantangan zaman, budaya itu harus dijaga.
“Karena saat jembatan fisik diperbaiki, jembatan hati antara TNI dan rakyat juga semakin kokoh, “tuturnya.
Dandim berpesan agar setelah diperbaiki, jembatan ini dirawat bersama. Jangan dirusak, jangan dibiarkan kembali lapuk.
“Melalui gotong royong ini diharapkan terjalin hubungan yang semakin harmonis antara TNI dan rakyat serta terciptanya lingkungan yang aman, nyaman dan mendukung kelancaran aktivitas masyarakat sehari-hari,” tutup Letkol Arm Andreas Prabowo Putro. (*)