Digelar Festival Lahan Basah Pertama di Indonesia, di Tempirai – Detiktoday.com

Digelar Festival Lahan Basah Pertama di Indonesia, di Tempirai – Detiktoday.com

Share
Share

Detiktoday.com, PALI – Sebuah festival lahan basah akan digelar di Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab
Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Perlu diketahui, Festival ini yang kali pertama digelar di Indonesia.

Berbagai tradisi masyarakat lahan basah menyemarakan festival, antara lain pameran
produk anyaman, kerajinan tangan, kuliner, serta pertunjukan sastra tutur, seni bela diri kuntau,
tari tradisional, dan bekarang atau menangkap ikan bersama di sebuah lebung.

“Selain itu akan digelar lomba masakan tradisional, lomba strory telling, renang di lebak,
konten kreatif, serta hiking ke hutan jongot, serta diskusi budaya,” ungkap Abri Amirudin, Ketua
Yayasan Kampung International Tempirai Indonesia, selaku pelaksanaan, Minggu kemarin (10/05/26).

Dijelaskan Abri, kegiatan yang difasilitasi Dana Indonesiana atau Dana Indonesiaraya
Tahun 2025, akan melibatkan pelajar, mahasiswa, tokoh adat, akademisi, pegiat budaya, dan
masyarakat Tempirai dan sekitarnya. Rencananya festival akan digelar pada pekan ketiga Juni
2026.

Azizah Syamsudin, selaku ketua pelaksana, menjelaskan masyarakat lahan basah di
Sumsel, termasuk di Tempirai, memiliki peran penting dalam peradaban di Sumatera
Selatan.

Mereka bukan hanya sebagai penyedia pangan, juga ahli atau memiliki pengetahuan
dalam berbagai bidang, seperti perajin kayu, perajin anyaman, perajin logam, perajin tenun, serta
pengobatan tradisional. Bahkan perempuan memiliki peran penting, sebab hampir semua
pengetahuan tersebut dikuasai dan diwariskan oleh kaum perempuan.

“Tapi perubahaan bentang alam lahan basah, seperti berubah fungsi menjadi perkebunan
monokultur, membuat berbagai tradisi atau budaya bersama pengetahuannya hilang atau
terancam punah,” ujarnya.

Beranjak dari persoalan tersebut, jelas Azizah, Festival Lahan Basah Tempirai digelar.

Harapannya, melestarikan berbagai tradisi masyarakat lahan basah yang masih bertahan, dan
menumbuhkan apresiasi dan kepedulian masyarakat pelestarian kekayaan lahan basah.

“Dampak yang diharapkan lahan basah di Sumatera Selatan, khususnya di Tempirai,
yang masih tersisa, terjaga bersama tradisi dan budayanya,” kata Azizah.

Share