Ekonom Bank Mandiri Prediksi Inflasi Sentuh 0,4% pada Mei 2026

Ekonom Bank Mandiri Prediksi Inflasi Sentuh 0,4% pada Mei 2026

Share
Share

JAKARTA,Detiktoday.com –  Tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan inflasi bulanan akan mencapai 0,4% pada Mei 2026. Angka ini lebih tinggi dari inflasi April yang sebesar 0,13%.  Sementara itu  inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,21%  dibandingkan 2,42% pada April 2026.

“Kami memperkirakan inflasi  akan mencapai 0,4% secara bulanan (mom) pada Mei 2026. Kenaikan laju inflasi ini terutama didorong oleh lonjakan harga tiket pesawat serta pemulihan harga pangan bergejolak (volatile food) dari kondisi deflasi menjadi inflasi ringan,” ucap Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin (1/6/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan inflasi Mei 2026 dalam konferensi pers pada Selasa (2/6/2026). Inflasi akan diumumkan bersama sejumlah indikator ekonomi lain yaitu ekspor dan impor April 2026; indeks harga perdagangan besar Mei 2026; indeks harga perdagangan internasional triwulan I-2026; nilai tukar petani  Mei 2026; perkembangan pariwisata April 2026; perkembangan transportasi Indonesia April 2026; luas panen dan produksi padi di Indonesia (Hasil KSA Amatan April 2026); luas panen dan produksi Jagung di Indonesia (Hasil KSA Amatan April 2026).

Dia mengatakan  harga pangan bergejolak diperkirakan kembali mengalami inflasi ringan sebesar 0,2% secara bulanan, setelah sebelumnya mengalami deflasi 0,88% pada April.Bila dikaji lebih rinci,  kenaikan harga pangan terjadi pada komoditas cabai merah (23%), bawang merah (4,1%), daging sapi (0,4%), dan beras (0,3%). Pada saat yang sama, beberapa komoditas masih mengalami penurunan harga telur ayam (5,2%), cabai rawit (4,7%), daging ayam (3,2%), dan bawang putih (2,9%).

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) diperkirakan melambat menjadi 0,19% secara bulanan, dari 0,23% pada April.  Penurunan harga emas sebesar 0,20% membantu menahan kenaikan komponen emas dalam inflasi inti. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar 2,35% selama sebulan terakhir masih memberikan tekanan kenaikan harga pada barang-barang impor.

“Selain itu, harga minyak goreng juga naik 1,3% secara bulanan,” kata dia.

Lalu komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) diperkirakan mengalami inflasi sebesar 1,30% secara bulanan, dibandingkan 0,69% pada April. Kenaikan inflasi ini terjadi karena lonjakan harga tiket pesawat yang diperkirakan mencapai 35,31% dalam sebulan, akibat kenaikan harga avtur seiring meningkatnya harga minyak dunia.

Baca Juga :

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan untuk ke depannya kenaikan harga minyak dan kenaikan harga komoditas lainnya akibat gejolak global dapat berdampak pada kenaikan harga-harga dan tekanan inflasi di dalam negeri. Di samping kenaikan harga-harga impor (imported inflation), tekanan inflasi dapat berasal dari kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah, termasuk kenaikan harga energi non-subsidi. Pihaknya akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

“Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera,” kata dia.  

Share