Ekonom: Rupiah Menguat, BI Belum Perlu Naikkan Suku Bunga Acuan Lagi. 

Ekonom: Rupiah Menguat, BI Belum Perlu Naikkan Suku Bunga Acuan Lagi. 

Share
Share

JAKARTA,Detiktoday.com – Pergerakan nilai tukar rupiah secara perlahan mulai bergerak ke tren positif. Hal ini tidak terlepas dari kombinasi meredanya tekanan perekonomian global dan terjadi secara bersamaan dengan upaya pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan Senin sore (15/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam 151 poin terhadap dolar Amerika Serikat  (AS) ke level Rp 17.708 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.860.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan penguatan rupiah tidak bisa dilihat sebagai hasil tunggal prospek damai AS–Iran. Prospek damai memang menjadi katalis besar karena pasar langsung memangkas premi risiko geopolitik, menurunkan harga minyak, dan menghidupkan kembali minat terhadap aset berisiko di Asia. Dengan kondisi tersebut maka Indonesia memperoleh manfaat lebih besar karena rupiah sangat sensitif terhadap harga minyak, kebutuhan valas impor energi, dan persepsi risiko eksternal.

Kendati demikian, faktor domestik juga bekerja kuat. Bank Indonesia(BI) sudah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) ke 5,5%, memperkuat operasi stabilisasi rupiah, menjaga daya tarik instrumen rupiah, dan membantu pasar membaca bahwa otoritas moneter tidak membiarkan rupiah bergerak liar. Pemerintah juga ikut menjaga pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui narasi stabilisasi obligasi.

“Oleh karena itu, penguatan rupiah lebih tepat dibaca sebagai hasil gabungan antara penurunan risiko geopolitik, koreksi harga minyak, stabilisasi BI, perbaikan pasar obligasi, dan bargain hunting saham domestik. Prospek damai membuka pintu, faktor domestik menentukan seberapa jauh pasar Indonesia mampu masuk ke fase pemulihan,” ucap Syafruddin pada Selasa (16/6/2026).

Dengan pergerakan rupiah saat ini, BI tidak perlu menaikkan suku bunga secara otomatis dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini. Mengingat rupiah sudah menguat, Non-Deliverable Forward  (NDF) jangka pendek membaik, volatilitas mulai turun, yield SBN 10 tahun turun ke bawah 7%, dan harga minyak terkoreksi tajam.

“Kondisi ini memberi ruang bagi BI untuk menahan BI Rate di 5,5% sambil mempertahankan komunikasi yang tegas,” kata Syafruddin.

Apabila BI  menaikkan suku bunga tambahan terlalu cepat maka akan memberikan dampak negatif ke  pertumbuhan kredit, konsumsi, dan ekspektasi pertumbuhan ketika ekonomi domestik yang masih perlu dukungan. Namun, BI juga tidak boleh memberi sinyal longgar sebab masih ada kemungkinan rupiah melemah hingga Rp18 ribu per dolar AS. Lalu, nilai premi risiko investasi (credit default swap)  belum kembali ke zona rendah, dan harga emas masih naik sebagai tanda pasar global tetap mencari perlindungan. Pilihan paling logis adalah ialah menahan suku bunga dengan bias stabilisasi yang kuat.  BI harus memastikan kesiapan intervensi valas, menjaga daya tarik dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), mengelola likuiditas, dan membuka opsi kenaikan lanjutan hanya jika rupiah kembali menembus 17.900–18.000 per dolar AS atau harga minyak melonjak tajam.  

“Dengan strategi itu, BI menjaga kredibilitas tanpa membebani ekonomi secara berlebihan,” terang Syafruddin.

Share