JAKARTA, Detiktoday.com – Pemulihan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diprediksi tidak akan kembali ke level normal seperti sebelum perang. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan arus minyak melalui jalur krusial tersebut hanya akan mencapai sekitar 70% dari kapasitas sebelum konflik.
Dalam catatan riset tertanggal 17 Juni 2026 yang dikutip Bloomberg internasional pada Kamis (18/6/2026) menyebutkan analis Goldman Sachs, termasuk Yulia Zhestkova Grigsby, mengungkapkan negara-negara produsen di kawasan Teluk kini semakin mengandalkan rute alternatif untuk mendistribusikan energi ke pasar global.
“Normalisasi ekspor minyak dari Teluk ke level pra-perang mungkin membutuhkan peningkatan arus di Hormuz sebesar 13 juta barel per hari (bpd) dari level saat ini,” tulis para analis tersebut, dikutip Kamis. Peningkatan ini diperkirakan akan rampung pada akhir bulan depan, dengan proyeksi produksi minyak Teluk kembali pulih sepenuhnya pada Oktober 2026.
Sebelum pecahnya perang, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya setiap hari, menurut data International Energy Agency (IEA).
Pergeseran Strategi Energi
Dunia saat ini tengah memantau aktivitas di Selat Hormuz pasca-kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.
Selama konflik berlangsung, arus minyak melalui jalur perdagangan ini sempat terhenti total akibat blokade dari kedua pihak, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Selama masa permusuhan, produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Irak telah mengoptimalkan infrastruktur alternatif untuk menjaga pasokan tetap mengalir ke pelanggan internasional:
– Arab Saudi: Meningkatkan penggunaan pipa lintas negara yang mengalirkan minyak ke pantai Laut Merah.
– Uni Emirat Arab (UEA): Memanfaatkan pipa menuju Pelabuhan Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz.
– Irak: Mengalihkan pengiriman minyak ke Pelabuhan Ceyhan di Turki.
Saat ini, arus minyak melalui Hormuz diperkirakan baru mencapai 1,3 juta barel per hari. Sebaliknya, volume besar minyak kini lebih banyak dialirkan melalui Pelabuhan Yanbu (Laut Merah), Fujairah, dan Ceyhan.
Era Baru Tanpa Ketergantungan Hormuz
Meskipun Selat Hormuz akan kembali dibuka, negara-negara Teluk tampaknya enggan kembali ke ketergantungan penuh. UEA, misalnya, sedang menjalankan rencana ambisius untuk memperluas pelabuhan di pesisir Teluk Oman, seperti Dibba, Fujairah, dan Khor Fakkan.
“Kami bergerak menuju kondisi nol ketergantungan pada Hormuz, terlepas dari apakah selat itu terbuka atau tidak,” ujar Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani Al Zeyoudi.
Senada dengan UEA, Kuwait juga tengah menjajaki kerja sama dengan Arab Saudi dan UEA untuk memperluas sistem pipa mereka agar dapat mengakomodasi ekspor minyak Kuwait melalui jalur alternatif.
Sementara itu, Goldman Sachs mencatat ketersediaan kapal tanker bukan menjadi hambatan utama dalam pemulihan arus, melainkan keengganan beberapa pemilik kapal yang masih khawatir melintasi jalur yang sempat menjadi zona konflik tersebut.
Selat Hormuz merupakan titik sumbatan (chokepoint) energi paling strategis di dunia. Jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab ini memfasilitasi sebagian besar ekspor minyak dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
Dengan posisi vitalnya, gangguan keamanan di selat ini dapat memicu kepanikan di pasar komoditas global, yang berujung pada lonjakan harga bahan bakar secara instan. Upaya negara-negara Teluk untuk membangun infrastruktur pipa baru ke luar selat merupakan langkah mitigasi risiko jangka panjang untuk memastikan keamanan pasokan energi mereka tidak lagi mudah terdampak oleh tensi geopolitik di masa depan.