Harga Bitcoin (BTC) Rontok Parah Bukan karena Michael Saylor, Ini PenyebabnyaHarga Bitcoin (BTC) Rontok Parah Bukan karena Michael Saylor, Ini Penyebabnya

Harga Bitcoin (BTC) Anjlok, Level US$ 60.000 Kembali MengintaiHarga Bitcoin (BTC) Anjlok, Level US$ 60.000 Kembali Mengintai

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com Harga Bitcoin (BTC) anjlok pada Jumat (19/6/2026) pagi. Pelemahan ini memicu kekhawatiran bahwa aset kripto terbesar di dunia tersebut berpotensi kembali menguji level psikologis US$ 60.000 di tengah menguatnya dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi, serta pergeseran minat investor ke sektor kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 2,2% menjadi US$ 2,17 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) hari ini ambles 2,53% ke level US$ 62.932 per koin atau sekitar Rp 1,12 miliar (kurs Rp 17.845 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar jatuh 2,38%. Ethereum ambles 2,34% menjadi US$ 1.712, Binance (BNB) jeblok 3,9% ke US$ 578, XRP anjlok 3,43% ke US$ 1,14, Solana (SOL) jatuh 3,56% menjadi US$ 69,71, Dogecoin (DOGE) terpangkas 3,01% ke US$ 0,08.

Dikutip dari CoinTelegraph, harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan setelah gagal menembus level US$ 67.200 pada awal pekan. Kondisi ini memicu koreksi sekitar 7% dan likuidasi posisi bullish senilai US$ 330 juta, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa aset kripto terbesar dunia itu berpotensi kembali menguji level US$ 60.000.

Menariknya, pelemahan Bitcoin terjadi ketika pasar saham teknologi Amerika Serikat (AS) justru menunjukkan kinerja solid. Indeks Nasdaq 100 masih bertahan dekat rekor tertinggi sepanjang masa, hanya berjarak sekitar 1% dari level puncaknya.

Analis menilai pergerakan tersebut menunjukkan semakin lebarnya jarak antara Bitcoin dan saham teknologi yang selama beberapa tahun terakhir sering bergerak searah.

Sentimen positif di pasar saham didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman. Kesepakatan itu mendorong harga minyak mentah turun ke level terendah dalam 15 pekan di kisaran US$ 74 per barel sehingga mengurangi kekhawatiran inflasi.

Di saat yang sama, data pasar tenaga kerja AS juga memberikan dukungan bagi investor setelah jumlah klaim pengangguran berkelanjutan tetap stabil di level 1,81 juta.

Namun, Bitcoin justru bergerak ke arah berbeda. Tekanan terhadap aset digital semakin kuat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh berulang kali menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga atau price stability dalam konferensi pers terbaru.

Pernyataan tersebut memunculkan keyakinan bahwa bank sentral AS akan tetap fokus mengendalikan inflasi, sehingga peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama semakin besar.

AI Curi Perhatian

Share