JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia berhasil bangkit dari level terendah dalam hampir tiga bulan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Harapan tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Iran membantu emas menghapus sebagian tekanan yang sempat muncul pada awal sesi perdagangan.
Harga emas spot ditutup naik tipis 0,02% menjadi US$ 4.329,98 per ons troi, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 23 Maret di US$ 4.268,39 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun 0,26% menjadi US$ 4.353,8 per ons troi.
Dikutip dari CNBC internasional, sentimen pasar membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata segera. Menurut Trump, negosiasi akhir menuju perdamaian masih terus berlangsung.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam Mulia Zaner Metals Peter Grant mengatakan, kabar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata menjadi faktor utama yang mendorong harga emas pulih dari posisi terendahnya.
“Kami berhasil bangkit dari level terendah yang terjadi pada sesi perdagangan luar negeri setelah muncul berita mengenai kemungkinan gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Berita tersebut mengurangi tekanan penurunan harga emas,” ujar Grant.
Sebagai aset safe haven, emas biasanya menjadi pilihan investor saat ketegangan geopolitik meningkat. Namun, prospek perdamaian di Timur Tengah dapat mengurangi risiko inflasi akibat lonjakan harga energi serta menurunkan tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
Meski berhasil bangkit dari titik terendah, kenaikan harga emas masih terbatas akibat penguatan dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir.
Dolar mendapat dukungan setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Penguatan dolar membuat emas dan komoditas lainnya yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Peluang The Fed