JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diprediksi masih memiliki peluang untuk melampaui level US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026, meski tengah berada dalam tren yang fluktuatif hingga bertahan di US$ 4.700.
Dikutip dari Kitco News, Selasa (28/4/2026) Kepala Strategi Lintas Aset di Amundi Investment Institute, Lorenzo Portelli mengatakan bahwa ia melihat guncangan pada sektor energi global imbas konflik di Timur Tengah hanya akan berdampak jangka pendek pada inflasi.
“Melihat 12 bulan ke depan, kami tetap optimis terhadap emas dan melihat potensi harga bergerak menuju US$ 5.500 per troy ounce,” kata Portelli dalam sebuah laporan.
Portelli menyoroti inflasi inti AS yang masih di atas target Federal Reserve sebesar 2%, namun belum meningkat secara signifikan.
“Inflasi inti tetap lebih terkendali dan lebih baik, mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mengambil sikap yang lebih agresif. Menurut pandangan kami, dorongan inflasi yang dipicu oleh guncangan energi kemungkinan akan bersifat sementara dan tidak berkelanjutan,” kata Portelli.
Pada saat yang sama, Portelli mencatat bahwa permintaan investasi emas didorong oleh lebih dari sekadar suku bunga AS.
Ia menambahkan, dengan harga emas turun sekitar 15% dari rekor tertinggi bulan Januari lalu, investor akan mengambil momentum aksi beli.
“Permintaan emas bank sentral kemungkinan akan tetap kuat, terutama di antara otoritas pasar negara berkembang yang terus melakukan diversifikasi cadangan dari mata uang tradisional. Kami tidak melihat tren ini akan berbalik dalam waktu dekat. Emas tetap menjadi aset strategis bagi pengelola cadangan yang berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meningkatkan ketahanan portofolio,” katanya.