Harga Emas Merangkak Naik di Tengah Isu Usulan Damai AS Iran

Harga Emas Merangkak Naik di Tengah Rumor Gencatan Senjata AS-Iran

Share
Share

BENGALURU, Detiktoday.com – Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Pergerakan ini terjadi saat para investor tengah mencermati laporan mengenai potensi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di tengah membumbungnya kekhawatiran seputar inflasi dan prospek suku bunga AS.

Di pasar spot, harga emas naik 0,4% menjadi US$ 4.512,79 per ons seperti dipantau Reuters, Jumat. Dengan capaian tersebut, logam mulia ini mencatatkan kenaikan sekitar 0,1% sepanjang pekan berjalan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga ikut menguat 0,2% ke level US$ 4.543,10.

Sebelumnya pada Kamis (28/5/2026), harga emas sempat merosot ke level terendah dalam dua bulan terakhir, sebelum akhirnya berbalik menguat setelah munculnya laporan perpanjangan gencatan senjata.

Gencatan Senjata hingga Lonjakan Inflasi AS

Berdasarkan laporan dari sumber Reuters, AS dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta mencabut pembatasan pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump belum memberikan persetujuan resmi, dan media pemerintah Iran menyatakan kesepakatan tersebut belum sepenuhnya final.

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan inflasi AS melonjak dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir pada April 2026. Lonjakan ini dipicu oleh tingginya harga energi akibat perang Iran, yang memperkuat prediksi para ekonom bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan.

Mengenai kebijakan moneter ini, para petinggi The Fed mengeluarkan pandangan yang beragam:

  • Alberto Musalem (Presiden Fed St. Louis): Menyatakan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan jika inflasi tidak kunjung mereda dalam enam bulan ke depan.

  • John Williams (Presiden Fed New York): Menilai kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat. Ia memperkirakan inflasi akan tetap tinggi dalam jangka pendek, namun tekanan tersebut akan melunak di akhir tahun.

Sementara itu dari sektor permintaan fisik, impor emas bersih China melalui Hong Kong dilaporkan melonjak tajam sebesar 81,2% pada April 2026 dibanding bulan sebelumnya, menunjukkan kuatnya minat beli dari negara konsumen emas terbesar dunia tersebut.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Tren positif emas juga diikuti oleh komoditas logam mulia lainnya pada perdagangan hari ini:

– Harga perak spot melesat 0,7% menjadi US$ 76,17 per ons.

– Harga platinum naik 0,2% ke level US$ 1,926,18.

– Harga palladium menguat 0,9% menjadi US$ 1.380,94.

Emas secara historis selalu dianggap sebagai aset penyelamat atau safe haven utama oleh para investor global ketika terjadi ketidakpastian geopolitik dan lonjakan inflasi.

Ketika konflik bersenjata pecah, seperti ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah, jalur perdagangan penting seperti Selat Hormuz kerap terganggu. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak, memicu inflasi global, dan mengikis nilai mata uang fiat.

Pada 2026, dinamika pasar komoditas sensitif terhadap naik-turunnya tensi konflik tersebut. Rumor gencatan senjata biasanya akan meredakan kekhawatiran pasar dan menekan harga emas karena investor kembali berani mengambil risiko di pasar saham.

Namun, karena inflasi terlanjur membubung tinggi dan The Fed mengisyaratkan kebijakan suku bunga ketat yang berkepanjangan, harga emas tetap mendapatkan dukungan kuat untuk bertahan di level tinggi, diperkuat oleh aksi borong fisik dari negara-negara Asia seperti China.

Share