JAKARTA, Detiktoday.com – Pasar saham Indonesia memasuki periode krusial saat rebalancing MSCI pada Jumat, 29 Mei 2026. Momentum ini membuka peluang bagi kebangkitan IHSG setelah tekanan panjang sejak awal kuartal II.
Per akhir sesi I perdagangan Jumat (29/5/2026), indeks harga saham gabungan (IHSG) malah diparkir positif 1,43% ke level 6.217. Namun, investor asing membukukan net sell Rp 1,64 triliun, di mana saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dijual asing dengan kisaran net sell masing-masing Rp 948 miliar untuk TPIA dan Rp 594 miliar pada BBCA.
Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan bahwa fund manager pasif kemungkinan akan melakukan penyesuaian portofolio terakhir mereka pada tanggal 29 Mei ini. Namun berdasarkan pola pergerakan pasar sejak pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026, sebagian besar pelaku pasar tampaknya sudah melakukan reposisi lebih awal.
Menurut Hans, tidak terlihat kepanikan berlebih meskipun beberapa saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Small Cap Index mengalami tekanan. Ia menilai, koreksi yang terjadi lebih dipicu faktor teknikal akibat metodologi bobot dan likuiditas yang digunakan MSCI.
”Penghapusan emiten dari indeks MSCI bukan mencerminkan penurunan fundamental. Banyak perusahaan yang dikeluarkan justru punya kinerja kuat, prospek baik, dan valuasi yang saat ini semakin menarik,” ujar Hans.
Dengan kata lain, pelemahan ini membuka peluang akumulasi khususnya bagi investor jangka panjang yang mencari value picks di tengah tekanan teknis pasar.
Hans melihat bahwa fase rebalancing MSCI dapat menjadi bottoming phase IHSG. Setelah penyesuaian selesai, pasar berpotensi kembali bergerak mengikuti fundamental korporasi yang secara agregat masih solid.
”Pasca rebalancing, IHSG punya peluang besar kembali bangkit. Banyak saham berfundamental kuat yang sudah turun terlalu dalam karena tekanan teknikal, bukan karena penurunan kinerja,” jelasnya.
Optimisme lainnya berasal dari reformasi pasar modal yang tengah didorong oleh OJK dan SRO. Hans menilai langkah-langkah perbaikan ini telah meningkatkan transparansi, kredibilitas, serta integritas pasar modal Indonesia, sekaligus memperkuat kepercayaan investor lokal maupun asing.
Reformasi itu termasuk sejumlah kebijakan yang memperdalam pasar, meningkatkan kualitas likuiditas, serta memperbaiki tata kelola dalam ekosistem pasar modal.
Dengan kombinasi tekanan teknikal yang mulai mereda, valuasi yang semakin menarik, serta reformasi pasar yang sedang berjalan, IHSG diperkirakan memasuki fase pemulihan terukur mulai awal Juni 2026.
Fase akumulasi diproyeksikan akan menyasar saham-saham blue chip yang terseret koreksi MSCI, serta emiten berfundamental kuat di sektor keuangan, konsumsi, telekomunikasi, energi, dan tambang.Investor jangka panjang dinilai dapat memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang masuk bertahap, sembari menunggu konfirmasi market bottom pasca rebalancing menghadirkan aliran dana baru ke pasar.