NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia naik pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Meski demikian, emas tetap mencatat kerugian mingguan untuk dua pekan beruntun seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Dikutip dari Reuters, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), menjelang pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.
Harga emas ditutup naik 0,19% ke level US$ 4.218,91 per ons troi. Namun, emas masih mencatat pelemahan sekitar 2,5% sepanjang pekan ini. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melonjak 3,06% ke posisi US$ 4.239,75 per ons.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan tekanan inflasi diperkirakan masih bertahan meski harga minyak berpotensi turun.
“Saya pikir inflasi akan tetap tinggi untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Pasar sudah sering mendengar narasi serupa sebelumnya sehingga muncul tingkat skeptisisme tertentu,” ujar Grant.
Harga minyak dunia sempat merosot lebih dari 3% setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menandatangani nota kesepahaman guna menghentikan konflik di kawasan Teluk. Namun, kantor berita Iran, Fars, membantah spekulasi tersebut dengan mengutip sumber yang dekat dengan proses negosiasi.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, harga emas justru berada di bawah tekanan. Pasar khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi yang lebih tinggi sehingga bank sentral global, termasuk The Fed, mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Meski emas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan peluang imbal hasil dari aset lain.
Peluang The Fed