JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia diprediksi bergerak dalam rentang US$ 4.389 per troy ounce hingga US$ 4.851 per troy ounce dalam sepekan ke depan.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, untuk harga emas dunia, pada Sabtu ditutup US$ 4.616 per troy ounce.
“Jika naik, resistance pertama harga emas di US$ 4.702. Kemudian, jika turun, support pertama di US$ 4.520.” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026).
Ibrahim menjelaskan, untuk sepekan ke depan, harga emas dunia jika turun berpotensi ke support kedua di US$ 4.389. Kalau naik, resistance kedua di US$ 4.851.
“Saya lihat secara teknikal bahwa kuartal II-2026 kemungkinan besar harga emas dunia itu mencapai US$ 5.400,” ucapnya.
Dia menjelaskan faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas dunia, terutama karena adanya faktor dari geopolitik.
Kemudian faktor yang kedua karena perpolitikan di Amerika Serikat (AS). Ketiga, karena perang dagang, yang keempat adalah kebijakan bank sentral global, dan yang kelima adalah supply and demand.
Ibrahim menjelaskan, permasalahan di Timur Tengah semakin menjadi-jadi, dan kemungkinan besar akan terjadi perang panjang.
Kemudian Trump juga sudah mempersiapkan untuk misil-misil supersonik, yang artinya perang kemungkinan besar akan terjadi.
“Perang yang terjadi nanti antara AS dengan Iran, akan membuat harga emas dunia terbang,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, harga emas dunia kali ini terkoreksi karena masih terjadi perang di mana melakukan blokade-blokade Iran di Selat Hormuz, kemudian Amerika di Laut Oman.
Kemudian tentang perpolitikan di AS, perang yang dilakukan oleh Trump terhadap Iran sedang menunggu proposal yang sudah ada di Kongres, sampai saat ini pun juga masih digodok.
Terkait perang dagang, menurut Ibrahim, Amerika akan menerapkan perang dagang dengan mitra bisnisnya baik dengan Eropa, dengan China, kemudian dengan Rusia. Ini tinggal menunggu waktu saja.
Meski rupanya di awal-awal Mei ini AS sudah menerapkan biaya impor 25% untuk otomotif atau mobil dari Eropa.
Ada kemungkinan besar Bank Sentral Global dalam pertemuan di bulan depan akan menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga ini yang akan membuat harga emas berguguran.
Untuk supply and demand, Ibrahim melihat bahwa kondisi harga logam mulia yang terus mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik, bukan saja bagi Bank Sentral Global, bagi investor besar, pengusaha maupun masyarakat untuk kembali mengoleksi logam mulia dengan harga yang relatif lebih murah.