Ketegangan terbaru dipicu oleh aksi AS yang mengambil alih kapal kargo Iran, memicu ancaman balasan dari Teheran. Kondisi ini membuat peluang tercapainya kesepakatan damai kembali diragukan.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan, terutama karena jalur penting Selat Hormuz masih mengalami hambatan.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya justru berkurang saat suku bunga global tinggi. Tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat konflik geopolitik bisa membuat suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama, sehingga menekan permintaan emas.
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan, pelaku pasar saat ini lebih fokus pada sentimen negatif bagi emas.
“Trader memilih faktor bearish seperti penguatan dolar dan kenaikan yield. Secara teknikal, target kenaikan berikutnya adalah jika harga mampu menembus level resistensi kuat di US$ 5.000 per ons troy,” jelasnya.
Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak stabil di US$ 79,72 per ons, platinum merosot 0,96% ke US$ 2.092,9 per ons, dan paladium malah naik 0,36% ke US$ 1.568,78 per ons, setelah sempat turun hingga menyentuh level terendah sepekan.