JAKARTA, Detiktoday.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih rawan mengalami koreksi lanjutan pada perdagangan, Jumat (5/6/2026).
Menguatnya mayoritas indeks di bursa Wall Street dan konfirmasi dari Kementerian ESDM bahwa skema gross split 70:30 untuk sektor tambang masih dalam kajian serta belum final diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar.
Di sisi lain, masih berlanjutnya aksi jual investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 5.740-5.640 dan resist 5.940-6.040,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan, Jumat (5/6/2026).
Pada perdagangan kemarin, indeks di bursa Wall Street ditutup bervariasi dengan mayoritas menguat seiring adanya rotasi yang dilakukan investor ke saham sektor non teknologi.
Saham sektor non teknologi yang merupakan konstituen Dow Jones, seperti UnitedHealth, dan JP Morgan Chase ditutup menguat signifikan masing-masing 5,16%, 3,34%.
Aksi rotasi portofolio saham tersebut terjadi setelah adanya aksi jual yang cukup masif di saham Broadcom (12,59%) setelah perseroan melaporkan pendapatan kuartal kedua tahun fiskal tahun ini yang meleset dari perkiraan.
Sementara itu, saham emiten semikonduktor yang sebelumnya membawa indeks ke level tertingginya dalam sejarah, pada perdagangan kemarin juga mengalami koreksi tajam seperti Arm holding 4,47% dan Micron Technology 7,74%.
CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham TLKM, EMAS, MDKA, TINS, ADRO dan PTBA untuk trading, Jumat (5/6/2026).