Detiktoday.com, KAPUAS HULU – Suasana berbeda terasa kental saat perayaan Gawai Dayak Makai Taon digelar di Desa Seluan, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Sabtu 30 Mei 2026 siang.
Tanpa panggung megah, tanpa rangkaian acara formal yang kaku, warga memilih merayakan dengan cara paling otentik kunjung-mengunjungi dari rumah ke rumah.
Kehadiran Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menambah hangat suasana. Orang nomor satu di Bumi Uncak Kapuas itu menyempatkan diri membaur langsung bersama masyarakat, duduk lesehan, bersilaturahmi, hingga menikmati hidangan khas Gawai di ruang tamu warga.
*Tradisi Kunjung-Mengunjungi, Inti dari Makai Taon*
Makai Taon di Desa Seluan tahun ini kembali menegaskan esensinya sebagai pesta syukur atas hasil panen dan keberkahan hidup selama setahun terakhir.
Tradisi ini berfokus pada nilai kekeluargaan. Warga membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk sanak, handai tolan, hingga pejabat daerah yang datang bersilaturahmi.
Bupati Fransiskus Diaan yang akrab disapa “Sis” terlihat tanpa sekat protokoler. Ia menyapa satu per satu pemilik rumah, duduk bersila di lantai, mendengarkan cerita warga, dan mencicipi hidangan yang disajikan tuan rumah.
Momen sederhana itu justru menciptakan kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakat di tingkat akar rumput.
“Rasanya beda kalau kita datang ke rumah warga. Nggak ada jarak, nggak ada formalitas berlebihan. Yang ada cuma tawa, cerita, dan rasa kekeluargaan,” ungkap Sis di sela kunjungannya.
*“Jauh Lebih Sakral dan Menyentuh”*
Dalam obrolan santai dengan warga, Bupati menyampaikan kekagumannya terhadap semangat kebersamaan masyarakat Desa Seluan.
Menurutnya, justru kesederhanaan acara inilah yang membuat Gawai Dayak Makai Taon tahun ini terasa istimewa.
“Nilai tertinggi dari Gawai Dayak Makai Taon itu ada pada ketulusan silaturahminya. Meskipun tanpa panggung atau pergelaran besar, kebersamaan saat kita duduk bersama di dalam rumah warga, mengobrol, dan makan bersama seperti ini justru terasa jauh lebih sakral dan menyentuh,” ujar Bupati Fransiskus Diaan.
Ia menekankan, kemewahan acara tidak selalu menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah perayaan adat. Yang terpenting adalah makna dan pesan yang hidup di tengah masyarakat.
*Jaga Gotong Royong sebagai Identitas Daerah*
Lebih jauh, Bupati Sis mengajak seluruh generasi penerus untuk merawat tradisi saling mengunjungi dan menjamu tamu dengan penuh kehangatan. Baginya, tradisi itu adalah fondasi utama menjaga persatuan di Kapuas Hulu yang multietnis.
“Tradisi saling mengunjungi dan menjamu dengan penuh kehangatan ini adalah identitas asli kita. Ini membuktikan bahwa gotong royong dan rasa kekeluargaan di Desa Seluan masih sangat kental. Mari kita jaga terus keharmonisan ini,” ajaknya.
Menurut Bupati, di tengah arus modernisasi, nilai-nilai seperti tenggang rasa, tolong-menolong, dan penghormatan pada sesama harus terus diwariskan.
“Gawai Dayak Makai Taon menjadi ruang nyata untuk mempraktikkan nilai tersebut, “tutur bang Sis.
*Suasana Penuh Tawa Hingga Sore Hari*
Kunjungan silaturahmi Bupati dari rumah ke rumah berlangsung hingga sore hari. Tawa lepas dan obrolan hangat mewarnai setiap rumah yang disinggahi. Tidak ada jarak antara pejabat dan warga, hanya ada sesama anak bangsa yang merayakan syukur bersama.
Perayaan Gawai Dayak Makai Taon di Desa Seluan tahun ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah daerah tidak terletak pada megahnya acara, tetapi pada kokohnya ikatan batin warganya. Dan di Seluan, ikatan itu terasa nyata, hangat, dan menyentuh hati. (*)