LONDON, Detiktoday.com — Harga emas dunia menunjukkan pergerakan stabil pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Stabilitas ini terjadi setelah Israel dan Iran sepakat untuk mengakhiri aksi saling serang dengan rudal yang sempat mengancam proses perundingan damai di Timur Tengah.
Hingga Selasa siang waktu London, harga emas berada di kisaran US$ 4.331 per ons troi, setelah pada sesi sebelumnya cenderung tidak banyak berubah, seperti dikutip Bloomberg internasional, Selasa.
Kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan deeskalasi ini menyusul seruan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tengah berupaya meredam konflik luas yang telah mengguncang pasar global selama berbulan-bulan.
Dampak Ekonomi Konflik
Perang yang kini memasuki bulan keempat tersebut telah mengganggu distribusi energi melalui Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak, dan menimbulkan kekhawatiran mengenai inflasi global.
Kondisi ini membuat bank sentral, termasuk The Federal Reserve (The Fed), cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan tersendiri bagi aset logam mulia seperti emas.
Saat ini, harga emas tercatat masih berada sekitar 18% di bawah level sebelum perang pecah. Kenaikan harga emas sepanjang tahun ini bahkan sempat terhapus perdagangan terakhir pekan lalu, dipicu oleh laporan data tenaga kerja AS yang kuat yang memperkuat spekulasi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
Menanggapi dinamika kebijakan moneter AS, Citigroup Inc. merevisi target harga emas tiga bulanan mereka menjadi US$ 4.000 per ons troi dari sebelumnya US$ 4.300.
“Untuk jangka panjang, kami tetap optimistis terhadap emas. Namun, dalam jangka pendek, investasi ini memiliki risiko yang sangat tinggi bagi mereka yang tidak memiliki cakrawala investasi panjang,” tulis analis Citigroup Kenny Hu dalam catatan risetnya. Meskipun demikian, Citi tetap mempertahankan target harga emas untuk enam hingga 12 bulan ke depan di level US$ 5.000 per ons troi.
Sementara itu, logam mulia lainnya menunjukkan tren positif. Perak naik 0,7% menjadi US$ 68,64 per ons troi, diikuti oleh kenaikan harga platinum dan paladium. Di sisi lain, Indeks Dolar Bloomberg melemah tipis sebesar 0,1%.
Emas secara historis dianggap sebagai aset safe haven atau pelindung nilai di masa ketidakpastian. Namun, dalam konflik Timur Tengah yang berlangsung saat ini, pergerakan harga emas menjadi sangat sensitif terhadap dua faktor utama: eskalasi militer yang mengganggu rantai pasok energi global, dan kebijakan moneter Amerika Serikat terkait suku bunga.
Ketika inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi, pasar sering kali bereaksi dengan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral. Kondisi ini menciptakan paradoks bagi emas.
Meskipun dibutuhkan sebagai pelindung aset dari perang, prospek suku bunga yang lebih tinggi justru menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (bunga) seperti instrumen pendapatan tetap.