JAKARTA, Detiktoday.com – Tekanan jual yang masih membayangi pasar emas membuat harga logam mulia ini kesulitan mempertahankan momentum kenaikannya. Meski demikian, ahli menilai tren bullish emas jangka panjang masih jauh dari kata berakhir, bahkan jika harga turun menembus level psikologis US$ 4.000 per ons troi.
Harga emas hari ini terlihat naik 0,18% ke level US$ 4.218,16 per ons troi saat berita ditulis.
Ekonom Kehormatan Universitas Bayreuth, Jerman, sekaligus penerbit Boom & Bust Report Thorsten Polleit mengatakan, koreksi yang terjadi saat ini merupakan bagian normal dari pergerakan pasar setelah reli emas yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, lonjakan harga emas hingga mencapai sekitar US$ 5.500 per ons troi sebelumnya telah bergerak jauh di atas tren historisnya. Karena itu, koreksi harga saat ini tidak seharusnya dipandang sebagai awal pasar bearish.
“Reaksi pasar seperti ini tidak mengejutkan setelah kenaikan yang sangat tajam,” ujar Polleit dikutip dari Kitco News, Jumat (12/6/2026).
Polleit memperkirakan, harga emas masih berpotensi turun di bawah US$ 4.000 per ons troi dalam jangka pendek. Namun, area sekitar US$ 3.900 per ons troi diperkirakan menjadi zona penyangga yang kuat.
Polleit menilai, level harga saat ini justru menarik bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang. Menurutnya, investor tidak perlu terlalu fokus mencari titik terendah harga karena prospek emas dalam lima tahun ke depan masih sangat menjanjikan.
“Saya tidak keberatan membeli emas di sekitar US$ 4.000 per ons troi. Mungkin saja turun sedikit lagi, tetapi untuk investasi lima tahun atau lebih, level ini tetap menarik,” katanya.
Polleit bahkan mengungkapkan, sedang mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan emas, baik melalui emas fisik maupun instrumen berbasis bursa.
Utang Pemerintah Jadi Katalis