JAKARTA, Detiktoday.com – Analis Traders Union Anton Kharitonov menyebutkan pada Jumat (15/5/2026) bahwa kurangnya kemajuan di antara para pendukung kenaikan harga emas memicu gelombang aksi ambil untung pada posisi beli (long position), yang mengakibatkan penembusan level support di sekitar US$ 4.650-4.640 per ons, sehingga harga emas turun ke US$ 4.544.
“Selanjutnya, harga emas dapat menguji level support di US$ 4.520-4.500, di mana para pelaku pasar emas dapat kembali aktif,” katanya.
Ia menambahkan pemulihan dari level tersebut menuju US$ 4.560-4.580 dapat dimanfaatkan untuk aksi jual. Penembusan level resistensi US$ 4.580 akan memicu reli menuju US$ 4.610-4.620 per ons.
Dalam jangka panjang, kata Anton, emas masih dapat dibeli kembali saat terjadi penurunan, karena permintaan dari bank sentral tetap kuat.
Sementara itu, Trading Economics menyebut harga emas merosot ke US$ 4.530 per ons pada hari Jumat, tertekan oleh percepatan inflasi AS yang memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya.
“Data yang dirilis awal pekan ini menunjukkan inflasi grosir AS melonjak dengan laju tercepat sejak 2022 pada bulan April, sementara harga konsumen mencatat kenaikan terbesar sejak 2023,” sebut ulasan Trading Economics.
Tekanan inflasi sebagian besar didorong oleh konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan hampir ditutupnya Selat Hormuz yang penting, yang telah sangat mengganggu pengiriman energi global.
“Pasar kini sepenuhnya mengesampingkan pemotongan suku bunga Fed tahun ini, dengan beberapa pedagang semakin memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember,” jelas Trading Economics.
Sementara itu, Presiden Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, membahas upaya untuk menjaga Hormuz tetap terbuka untuk melestarikan perdagangan energi. Secara terpisah, India memperketat peraturan impor emas lebih lanjut karena pihak berwenang meningkatkan langkah-langkah untuk mendukung rupee.