JAKARTA, Detiktoday.com – Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik Iran dan ketidakpastian kebijakan tarif global, pasar kripto justru menunjukkan fenomena unik. Perlawanan arus antara investor kecil dan pemain besar. Saat investor ritel mulai melepas aset karena panik, data on-chain mengungkap para “whale” dan institusi raksasa justru sedang berpesta pora memborong Bitcoin (BTC).
Data terbaru menunjukkan bahwa dompet kategori Shark (pemilik 100 hingga 1.000 BTC) telah menyerap sebanyak 37.920 Bitcoin hanya dalam 30 hari terakhir. Aksi borong ini berhasil menelan seluruh pasokan yang dilepas oleh para mega-whale dan masih terus bertambah, menandakan dukungan harga yang sangat kuat dari sektor institusi.
Kontras yang tajam terlihat pada indeks Fear and Greed yang saat ini tertahan di angka 32, menandakan kondisi pasar yang sedang dilingkupi rasa takut (Fear). Namun, bagi para pemain besar atau “Smart Money”, ketakutan ritel adalah peluang emas.
Salah satu pemain utama dalam aksi ini adalah Strategy, perusahaan publik yang dipimpin oleh tokoh pro-Bitcoin Michael Saylor. Baru-baru ini, Strategy mengumumkan pembelian tunggal terbesarnya sejak 2024, yakni sebanyak 34.164 BTC senilai US$ 2,54 miliar (sekitar Rp 43,7 triliun).
“Para hiu dan paus kelas menengah memakan setiap keping koin yang ada, bahkan lebih,” tulis pengamat pasar Eye Zen Hour melalui platform X seperti dikutip laman Blockonomi, Senin (27/4/2026).
Kelangkaan di Bursa: Rekor Terendah 7 Tahun
Selain aksi borong, data menunjukkan tren eksodus Bitcoin dari bursa kripto (exchange). Cadangan Bitcoin di bursa kini merosot ke angka 2,21 juta BTC, yang merupakan level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Dalam 30 hari terakhir saja, aliran keluar bersih (net outflow) dari bursa mencapai 48.500 BTC atau setara US$ 3,6 miliar (Rp 62,0 triliun). Hal ini mengindikasikan investor besar tidak berniat menjual aset mereka dalam waktu dekat, melainkan memindahkannya ke penyimpanan dingin (cold storage) untuk investasi jangka panjang.
Portofolio Bitcoin milik Strategy kini mencapai angka fantastis: 815.061 BTC dengan nilai pasar sekitar US$ 63,64 miliar (Rp 1.096,3 triliun). Meskipun harga rata-rata pembelian mereka berada di US$ 75.522 (sekitar Rp 1,3 miliar) per koin, perusahaan ini telah mencatatkan keuntungan yang belum direalisasi sebesar US$ 2,1 miliar (Rp 36,2 triliun).
Michael Saylor baru-baru ini mengunggah laporan pelacak investasinya yang ke-16 untuk 2026 dengan slogan “The Orange Beat Goes On”. Bagi komunitas kripto, kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan kode keras pembelian besar berikutnya mungkin akan diumumkan dalam hitungan hari.
Perilaku pasar yang kita lihat hari ini merupakan hasil dari evolusi panjang Bitcoin sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2009. Jika pada dekade pertamanya Bitcoin dianggap sebagai “mainan” spekulatif bagi penggiat teknologi dan investor ritel, pada 2024-2026 menandai era baru di mana Bitcoin telah sepenuhnya diterima sebagai aset cadangan institusional.
Pergeseran ini dimulai secara masif sejak persetujuan ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat, yang membuka pintu bagi dana pensiun dan perusahaan publik untuk memasukkan aset digital ke dalam neraca keuangan mereka.
Strategi Michael Saylor melalui perusahaannya telah menjadi standar baru dalam manajemen aset korporat, di mana Bitcoin dipandang sebagai “emas digital” yang berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi mata uang fiat.
Akibatnya, dinamika pasar kini tidak lagi hanya ditentukan oleh sentimen berita harian, melainkan oleh siklus akumulasi jangka panjang dari para pemegang modal besar yang memiliki daya tahan jauh lebih kuat dibandingkan investor ritel tradisional.