Laba MEDC Ngegas, RAJA, RATU, dan ELSA Lambat Panas

Laba MEDC Ngegas, RAJA, RATU, dan ELSA Lambat Panas

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Emiten minyak dan gas (migas) papan atas Tanah Air mulai dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), perusahaan terafiliasi Happy Hapsoro, hingga entitas subholding upstream Pertamina Group, PT Elnusa Tbk (ELSA) telah merilis kinerja keuangan kuartal I-2026 dengan hasil akhir ada yang ngegas, ada pula yang lambat panas.

MEDC tergolong emiten migas yang ngegas dengan menghasilkan laba lari hingga ratusan persen. Sesuai laporan keuangan tiga bulan pertama tahun ini, MEDC berhasil membukukan laba bersih sebesar US$67,21 juta, terbang 282,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) didorong oleh menguatnya kinerja operasional dan kontribusi anak usaha, PT Amman Mineral Tbk (AMMN).

Dari sisi operasional, Medco mampu memproduksi migas menjadi 169 mboped sepanjang Januari-Maret 2026. Capaian tersebut meningkat 18% yoy yang berasal dari aset Natuna, Corridor, Senoro, dan Oman. Padahal, pipa Transportasi Gas Indonesia (TGI) mengalami gangguan sementara sebelumnya akhirnya bisa diselesaikan pada April.

Perseroan juga menikmati meledaknya harga minyak global akibat konflik geopolitik. Pada kuartal I-2026, MEDC merealisasikan harga minyak rata-rata sebesar US$75/barel, lebih tinggi ketimbang US$63/barel pada kuartal IV-2025. Sedangkan untuk Maret 2026, harga minyak terealisasi sebesar US$94,0/barel diikuti kenaikan harga gas menjadi US$7,2/mmbtu daripada kuartal sebelumnya US$6,7/mmbtu.

Di samping bisnis migas, emiten keluarga Panigoro ini juga mencatatkan pertumbuhan dari bisnis penjualan listrik sebesar 21% yoy menjadi 1.053 Gwh berkat dukungan keandalan DEB, ekspansi ELB serta aset lainnya. Porsi penjualan EBT melonjak 28,5% dari total penjualan listrik sehingga hal ini mendukung strategi transisi energi perseroan.

Belum lagi, kontribusi AMMN yang memberikan sumbangsih kepada laba bersih MEDC sebesar US$34 juta pada kuartal I-2026. AMMN tercatat memproduksi sebanyak 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas serta melanjutkan pemurnian sebesar 27,7 ribu ton katoda tembaga dan 66,2 ribu ons emas murni pada triwulan pertama 2026 tersebut.

Berkat dukungan sejumlah sentimen positif tersebut, pendapatan Medco pun melejit hingga 19% yoy menjadi US$668 juta. Utamanya, karena dipengaruhi oleh volume minyak dan gas yang lebih tinggi dari tambahan partisipasi di Corridor serta produksi baru dari lapangan Forel dan Terubuk.

Direktur Utama Medco Energi, Hilmi Panigoro. (B-Universe/Alfida Febrianna).

“Kinerja kuartal pertama kami mencerminkan fokus berkelanjutan Medco pada keunggulan operasional, pengelolaan keuangan yang disiplin dan pertumbuhan jangka panjang. Kami berkomitmen, untuk memperkuat portofolio dan memberikan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” jelas Direktur Utama Medco Hilmi Panigoro dalam keterangan resmi dikutip, Minggu (3/5/2026).

RAJA, RATU dan Elnusa

Sebaliknya, kinerja PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan ELSA selama Januari-Maret 2026 justru lambat panas. Bahkan, RATU—anak usaha RAJA—labanya drop hingga 31,5% secara yoy menjadi US$4 juta dari sebelumnya US$5,9 juta bersamaan dengan menurunya pendapatan bersih RATU dari US$66 juta menjadi US$55,26 juta.

Sebelumnya, Direktur Utama RATU Sumantri mengungkapkan bahwa dari tiga aset investasi yang dimiliki perseroan yaitu Blok Cepu, Jabung, dan Blok Selat Madura, hanya Blok Cepu yang 100% kontribusinya berasal dari minyak.

Sedangkan Jabung, 60% atau mayoritas pendapatannya berasal dari gas dan 40% lainnya datang dari minyak. Sementara Blok Selat Madura, sekitar 70-80% pendapatannya bersumber dari gas dan 20% sisanya dari minyak.

“Yang perlu dicatat dari Blok Jabung, kami menikmati penjualan gas ke Singapura. Jadi, harganya cukup premium dan itu kontraknya per lima tahun. Kalau harganya naik, biasanya mengikuti, terutama gas yang kami jual ke Singapura,” ungkap Sumantri. Artinya, RATU berpotensi memberikan kejutan dalam jangka panjang kendati pada kuartal I-2026 ini kinerjanya mengalami tekanan.

RAJA sendiri selaku induk RATU masih bertumbuh positif. Berkaca pada laporan keuangan yang dipublikasi, RAJA meraup laba bersih sebesar US$8,63 juta per 31 Maret 2026, lebih tinggi 28,4% dibanding US$6,72 juta per 31 Maret 2025. Namun, sama seperti RATU, pendapatan bersih RAJA juga terkoreksi dari US$66 juta per 31 Maret 2025, menjadi US$55,26 juta per Maret 2026 akibat inefisiensi beban.

Adapun Elnusa, meski mencatatkan laba sebesar Rp189,55 miliar pada kuartal I-2026 atau naik 1,55% secara yoy, namun kenaikan tersebut lebih kecil dibandingkan laba perseroan pada kuartal I-2025. Kala itu, ELSA bisa menghasilkan kenaikan laba bersih hingga 1,9% secara yoy. Ini terjadi karena pendapatan perseroan pada Januari-Maret 2026 mengalami penyusutan dari Rp3,72 triliun menjadi Rp3,61 triliun.

Berbeda dengan kuartal I-2025 di mana pendapatan Elnusa menguat dari Rp3,10 triliun menjadi Rp3,72 triliun. RHB Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham ELSA dengan target harga 980 atas pertimbangan lingkungan harga minyak yang lebih tinggi akan mendorong lebih banyak aktivitas eksplorasi serta mendukung estimasi laba full year 2026 sebesar 22% yoy.

“Prospek survei seismik juga lebih menguntungkan seiring dengan harga minyak yang mendukung aktivitas eksplorasi yang lebih luas,” tulis RHB Sekuritas.

Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah menyatakan, perseroan fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas kinerja. “Kami melihat, kuartal I-2026 sebagai fondasi yang baik terutama dari sisi kas dan efisiensi operasional. Ke depan, disiplin finansial dan investasi yang selektif menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” beber Nalwin dalam penjelasan resminya.

Share