JAKARTA, Detiktoday.com – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terus membuka ladang-ladang cuan demi mendongkrak pertumbuhan kinerja perseroan. Ini seiring dengan transformasi strategis TPIA, yang kini mulai membuahkan hasil.
Chandra Asri Pacific merupakan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang didukung oleh Grup Barito Pacific, dengan SCG Chemicals (SCGC) sebagai mitra strategis sejak 2011 dan Thai Oil sejak 2021. Perseroan memimpin pasar untuk sejumlah produk petrokimia domestik.
Dalam kurun waktu hanya tiga tahun, Chandra Asri Pacific berhasil bertransformasi dari perusahaan yang bergantung pada satu aset cracker – pabrik pemecah nafta menjadi bahan baku petrokimia – senilai US$ 1,8 miliar dengan margin negatif sepanjang 2022-2024, menjadi platform bisnis dengan pendapatan US$ 7-10 miliar yang mencakup sektor energi, kimia, dan infrastruktur.
Emiten berkode saham TPIA tersebut juga mendapat tambahan sumber cuan dari bisnis ritel dan pabrik CA-EDC (chlor alkali-ethylene dichloride).
Penyelesaian akuisisi aset Shell Singapore melalui entitas Aster pada 2025 menandai terbentuknya lini bisnis energi baru bagi TPIA. Akuisisi tersebut mencakup kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari (kbpd) dan fasilitas cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun (Mtpa).
“Langkah ini mengurangi ketergantungan TPIA terhadap bisnis petrokimia yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan margin akibat kelebihan kapasitas produksi di China. Saat ini, segmen energi telah menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi TPIA dengan porsi 55% terhadap pendapatan kuartal I-2026,” tulis analis Verdhana Sekuritas Indonesia, Michael Wildon Ng dan Nizam Syafik dalam risetnya, dikutip pada Kamis (18/6/2026).
Selain itu, TPIA juga telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso, sehingga menciptakan integrasi bisnis dari pengilangan, petrokimia, hingga distribusi ritel. Integrasi ini diharapkan menghasilkan sinergi di sepanjang rantai nilai (value chain).
Sumber pertumbuhan berikutnya berasal dari proyek CA-EDC, yaitu fasilitas produksi soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) yang merupakan bahan baku utama industri PVC.
Proyek senilai US$ 800 juta ini dikembangkan bersama Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA), dengan kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik per tahun dan 500 ribu ton EDC per tahun di Cilegon. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Sementara itu, integrasi Aster mulai memberikan hasil berupa EBIT (earnings before interest and taxes) tertinggi sepanjang sejarah, yang didukung oleh kuatnya margin pengilangan.
TPIA membukukan EBIT konsolidasian tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih senilai US$ 205 juta pada kuartal I-2026. “Kami memperkirakan tren margin pengilangan acuan Singapura akan tetap kuat,” sebut Michael dan Nizam.
Crack spread – selisih antara harga produk hasil pengilangan dan harga minyak mentah sebagai indikator profitabilitas kilang – diperkirakan bertahan di atas US$ 10 per barel.
Sebagai perbandingan, selama periode konflik di Timur Tengah, angkanya sempat mencapai US$ 30 per barel, sedangkan sebelum konflik berada di bawah US$ 5 per barel.
Gangguan pasokan yang berkaitan dengan Iran diperkirakan masih berlanjut, sehingga mendukung keberlanjutan margin tersebut. Karena itu, investasi pada Aster berpotensi memberikan periode pengembalian modal yang lebih cepat dari perkiraan awal, sekaligus memperbaiki struktur utang TPIA secara keseluruhan.
Tambah Saham Publik