Yogyakarta, Detiktoday.com – Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, menegaskan pentingnya kedaulatan kelautan dalam cara pandang geopolitik yang menempatkan Indonesia pada perspektif global.
Menurutnya, laut harus diposisikan sebagai pusat inovasi sekaligus ruang strategis geopolitik nasional.
Hal tersebut disampaikan Megawati dalam forum National Policy Dialogue bertajuk “Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan” yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (22/5).
“Guna mewujudkan masa depan tersebut, BRIN harus mampu mengintegrasikan riset ke industri dan kebijakan publik dalam satu ekosistem inovasi nasional. Kita membutuhkan orkestrasi pengetahuan yang mampu menjembatani laboratorium dengan industri, kampus dengan pasar, riset dengan kebijakan negara, serta inovasi dengan pembangunan dan rakyat,” tegas Megawati.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Megawati menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat oseanografi terbesar di Asia Tenggara. Untuk mendukung hal tersebut, kompartemen maritim harus dibangun sebagai koridor strategis dengan menempatkan perguruan tinggi sebagai simbol intelektual (city of intellect).
Ia pun memetakan peran strategis sejumlah kampus top di Indonesia:
– Universitas Pattimura & Universitas Cenderawasih: Pusat penguasaan iptek, riset, dan inovasi bidang kelautan.
– Universitas Gadjah Mada (UGM): City of intellect Pancasila, demokrasi, pemerintahan, dan kebudayaan.
– Institut Pertanian Bogor (IPB): Pusat perancangan Indonesia yang berdaulat di bidang pangan.
– Universitas Indonesia (UI): Fokus pada bidang ekonomi, kedokteran, dan sistem keuangan.
– Institut Teknologi Bandung (ITB): Pusat penguasaan teknologi untuk industrialisasi, termasuk teknologi militer dan angkasa luar.
Secara historis, Megawati meyakini geopolitik dapat menjawab tantangan masa depan, terlebih Indonesia memiliki posisi geostrategis, geoekonomi, dan kekayaan hayati yang melimpah.
Ia berharap kekayaan biodiversitas laut ini menjadi motor penggerak industri farmasi, bioteknologi kelautan, energi baru terbarukan (EBT), ekonomi karbon biru, hingga produksi pangan masa depan yang berujung pada kesejahteraan rakyat.
“Kita memerlukan orkestrasi besar antara negara, perguruan tinggi, peneliti, industri, dan masyarakat. Pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, harus ada irama, arah, dan tujuan yang sama, yaitu Indonesia yang berdaulat, merdeka, dan berdikari,” tambahnya, seraya mengutip pesan Bung Karno agar bangsa Indonesia percaya pada kekuatan sendiri.
Merespons arahan tersebut, Rektor UGM Ova Emilia menyatakan kesiapan perguruan tinggi untuk menjadi mitra strategis BRIN dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem ekonomi biru yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
“Penguatan kedaulatan maritim perlu didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, diplomasi, serta kebijakan dan regulasi yang visioner,” ujar Ova.
Ova menambahkan bahwa biodiversitas kelautan Indonesia bukan sekadar aset alam yang harus dijaga, melainkan sumber pengetahuan dan kesejahteraan bangsa. Oleh karena itu, ekosistem riset yang terintegrasi sangat mutlak diperlukan agar hasil laboratorium bisa dihilirkan ke masyarakat dan industri.
“Kami sangat mendukung BRIN untuk bisa menjembatani keberpihakan bagi hilirisasi hasil riset,” pungkas Ova, berharap forum ini menghasilkan policy brief yang konkret bagi penguatan kebijakan maritim nasional.