JAKARTA, Detiktoday.com – Pasar emas terbesar kedua di dunia, yakni India tengah dihadapi sejumlah tekanan menyusul pemberlakuan kenaikan impor logam mulia. Salah satunya, peningkatan kasus penyelundupan emas yang diperkirakan melebihi 100 metrik ton.
Dikutip dari Mining, Rabu (10/6/2026) India dilaporkan telah melihat peningkatan kasus penyelundupan emas karena margin pasar gelap yang melonjak memungkinkan penyelundup untuk menyaingi bank dan produsen resmi.
Peningkatan itu terlihat setelah India menaikkan tarif impor emas lebih dari dua kali lipat menjadi 15% pada Mei 2026 untuk menekan permintaan, mengurangi defisit perdagangan, dan mengurangi tekanan pada mata yang rupee.
Namun, pedagang emas mengklaim, kebijakan tersebut memperluas peluang bagi penyelundup emas ilegal untuk mematok harga yang lebih bersaing dibandingkan importir resmi.
Kepala divisi di sebuah bank pengimpor emas swasta di Mumbai mengungkapkan bahwa diskon harga emas ilegal mencapai US$ 200 per ons. Di sisi lain, penjual resmi tidak dapat menawarkan diskon melebihi US$ 10.
Sejumlah pedagang lain juga mengeluhkan kasus serupa, di mana impor emas ilegal dapat melebihi 100 ton pada tahun 2026. Dengan harga saat ini, 100 ton emas di India bernilai sekitar US$ 14,35 miliar, atau setara kerugian sebesar US$ 2,65 miliar dalam bentuk tarif dan pajak penjualan.
Diketahui, para penyelundup dapat menawarkan diskon besar karena mereka tidak membayar pajak atas emas, termasuk tarif impor dan pajak barang dan jasa sebesar 18,45%.
“Ada margin lebih dari 2,5 juta rupee untuk mengimpor satu batang emas seberat satu kilogram, yang kira-kira seukuran iPhone. Wajar jika masyarakat akan mencoba mendapatkan keuntungan cepat,” kata seorang pedagang emas di Kolkata, India.
Sebelum pemotongan bea masuk, rata-rata 108 metrik ton logam mulia diselundupkan ke negara itu setiap tahun selama dekade sebelumnya, menurut data yang dikumpulkan oleh World Gold Council.