Jakarta, Detiktoday.com – Udara Sabtu pagi (23/05/2026) di Jakarta Timur terasa berbeda bagi para kader berlambang banteng moncong putih. Hari ini, sebuah babak baru konsolidasi ideologis resmi dimulai. Secara serentak, PDI Perjuangan menggelar Musyawarah Ranting (Musran) dan Musyawarah Anak Ranting (Musanran) di 65 kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan se-Kota Administrasi Jakarta Timur.
Bagi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Jakarta Timur, Dwi Rio Sambodo, momentum ini bukan sekadar agenda struktural tahunan. Ini adalah sebuah peristiwa bersejarah untuk merapatkan barisan.
“Dari forum inilah arah gerak partai dirumuskan, strategi perjuangan disusun, dan kepemimpinan rakyat ditempa demi memastikan partai tetap menjadi alat perjuangan kaum marhaen,” ujar Rio dalam keterangan persnya yang diterima Jumat (22/05/2026).
Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus mantan Ketua Cabang GMNI Jakarta ini menegaskan bahwa Musran dan Musanran adalah medan konsolidasi besar. Tujuannya jelas: menyatukan langkah, memperkuat disiplin organisasi, dan membangun barisan perjuangan yang kokoh, progresif, serta revolusioner di tingkat akar rumput.
Sembari menyemangati para kader yang sedang berkumpul di 10 titik kecamatan, Rio menitipkan pesan mendalam.
“Junjung tinggi semangat musyawarah mufakat, disiplin organisasi, dan loyalitas ideologis demi melahirkan kepemimpinan yang berani, amanah, serta setia menempuh jalan rakyat,” tandasnya.
Struktur Baru dari Akar Rumput: Ramah Perempuan dan Anak Muda
Menghidupkan mesin partai di tingkat ranting tentu membutuhkan formula yang matang. Ketua Panitia Pelaksana, Boy Surentu, menjelaskan bahwa penyusunan struktur pengurus ranting masa bakti 2025-2030 kali ini tidak dilakukan sembarangan. Prosesnya melibatkan penjaringan, penyaringan melalui fit and proper test, hingga penyerapan aspirasi kewilayahan yang merujuk pada Peraturan Partai (PP) Nomor 01 Tahun 2024.
Guna memastikan kepengurusan yang inklusif dan modern, DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur mengeluarkan instruksi strategis yang wajib dipenuhi dalam menyusun personalia pengurus ranting:
-Kuota Perempuan 30%: Setiap kepengurusan ranting wajib melibatkan minimal 3 orang perempuan.
-Darah Muda 10%: Wajib mengakomodir minimal 1 orang anak muda berusia di bawah 30 tahun demi regenerasi partai.
-Unsur Eksternal 10%: Membuka pintu bagi minimal 1 orang tokoh wilayah, tokoh agama, tokoh pemuda/Karang Taruna, ormas, hingga relawan Pilpres dan Pilkada.
-Merangkul Senior: Mengakomodir mantan pengurus PAC, Badan, dan Sayap Partai yang bersedia berjuang di tingkat ranting.
Selain itu, Boy juga menggarisbawahi pentingnya pemerataan geografis. Domisili pengurus harus tersebar secara adil mewakili wilayah kelurahan atau rukun warga (RW).
“Misalnya, jika ada 15 RW di satu kelurahan, maka keterwakilan pengurus harus dibagi rata, misal dari blok RW 1-5, RW 6-10, dan RW 11-15,” jelas Boy.
Langkah ini diambil untuk memastikan partai benar-benar mengakar di tengah masyarakat secara luas. “Kecuali jika ada kendala demografis tertentu seperti kompleks aparatur. Kami mengutamakan pilihan kader yang lebih meluas, daripada hanya berpusat di lingkungan keluarga sendiri,” pungkasnya.
Melalui konsolidasi massal hari ini, PDI Perjuangan Jakarta Timur tampaknya sedang menegaskan kembali khitahnya: bahwa kekuatan sejati banteng, berada di tangan rakyat dan pengurusnya di akar rumput.