JAKARTA, Detiktoday.com – Investor asing melakukan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 525,3 miliar pada perdagangan saham sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/6/2026). Meski demikian, asing terpantau masuk ke saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Berdasarkan data BEI yang dilansir Stockbit Sekuritas, asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) saham BUMI senilai Rp 165,59 miliar, jika dihitung berdasarkan harga rata-rata pada sesi I. Volumenya sebanyak 1,1 miliar saham.
Net buy asing pada saham BUMI terbesar dibandingkan saham lainnya. Aksi beli di pasar reguler Bursa Efek Indonesia itu terjadi saat harga saham BUMI anjlok 9,9% ke level Rp 145.
Dalam sepekan terakhir, saham BUMI terpangkas 12,65% dan sebulan ambles 39,5%. Selama periode year to date (ytd), BUMI ambrol 60,3%.
Secara kinerja, menurut analis MNC Sekuritas Raka Junico, Bumi Resources (BUMI) memiliki rekam jejak efisiensi operasional yang cukup teruji dalam beberapa tahun terakhir.
Pada kuartal I-2026, BUMI mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 28,1 juta atau naik 35,2%. Pendapatan mencapai US$ 417,7 juta atau meningkat 19,7%.
Raka optimistis bahwa BUMI mampu mencapai target EBITDA dari segmen batu bara dan non-batu bara seimbang pada 2031. Hal tersebut terjadi karena BUMI dinilai agresif dalam mentransformasi bisnisnya menjadi perusahaan tambang multi-komoditas lewat berbagai aksi korporasi akuisisi belakangan ini.
BUMI telah mengakuisisi saham tambang konsentrat tembaga Wolfram dan saham tambang emas Jubilee. Terbaru, BUMI berencana mengakuisisi perusahaan tambang Australia lainnya, yaitu Loyal Metals.
Ekspansi anorganik yang dilakukan BUMI dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang yang positif, karena melalui strategi diversifikasi risiko fluktuasi harga komoditas terutama batu bara lebih dapat di-manage. Dengan demikian, stabilitas serta kualitas laba jangka menengah dan panjang menjadi lebih solid.