GOTO telah menunjukkan kinerja kuartalan terkuat sepanjang sejarah perusahaan. GOTO, yang belakangan ini sahamnya diserok oleh Danantara, berhasil mencetak laba bersih pertamanya pada kuartal I-2026 sebesar Rp 258 miliar.
Adapun adjusted EBITDA atau laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang telah disesuaikan mencapai Rp 907 miliar, melonjak 131% yoy.
“Kinerja GOTO tersebut jauh melampaui titik tengah panduan kinerja tahunan perusahaan yang sebesar Rp 3,3 triliun, jika dihitung secara tahunan (annualized basis),” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti dalam risetnya.
Menurut dia, segmen ODS (on demand services) atau layanan berbasis permintaan – yang mencakup layanan transportasi dan pengantaran – mencatat pertumbuhan adjusted EBITDA sebesar 40% yoy menjadi Rp 439 miliar.
Margin EBITDA terhadap gross transaction value (GTV) atau nilai total transaksi bruto GOTO juga meningkat menjadi 2,7%. Ini merupakan level tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dibandingkan 2% pada kuartal I-2025.
Namun, risiko regulasi meningkat. Pemerintah dikabarkan telah menyetujui pembatasan komisi platform transportasi daring maksimal sebesar 8%.
“Kami memperkirakan kebijakan ini dapat menurunkan net take rate segmen ODS sebesar 170 basis poin (bps) menjadi 17,2%,” ungkap Atikah.
Dampak dari regulasi pembatasan komisi platform transportasi daring terhadap GOTO adalah potensi penurunan pendapatan bisnis ODS hingga 35,7% yoy pada 2026.
KB Valbury Sekuritas memproyeksikan GTV GOTO secara grup mencapai Rp 752,6 triliun, tumbuh 9,8% yoy. Pendapatan bersih GOTO ditaksir sebesar Rp 17,6 triliun dengan blended take rate 2,34%.
Meski demikian, GOTO diperkirakan masih membukukan rugi bersih pada 2026 sekitar Rp 248 miliar, sebelum akhirnya menghasilkan laba bersih tahunan penuh pertama pada 2028.
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham GOTO dengan target harga Rp 58. Ini mencerminkan potensi kenaikan harga saham sekitar 16%.