JAKARTA, Detiktoday.com – Penurunan tajam harga emas beberapa waktu lalu tampaknya tidak melemahkan optimisme para analis terkait pergerakan logam mulia ke tren penguatan.
Dikutip dari CNBC International, Minggu (19/4/2026), sejumlah ahli strategi menilai penurunan harga emas baru-baru ini mencerminkan dislokasi jangka pendek daripada pergeseran fundamental emas yang mendasar.
Risiko geopolitik yang terus-menerus, permintaan bank sentral yang kuat, dan prospek dolar AS yang lemah dinilai akan mendukung tren harga emas yang bullish.
Yardeni Research mengungkapkan bahwa harga emas bisa menembus level US$ 5.000 per troy ons pada akhir tahun 2026, melanjutkan penguatan di tahun-tahun berikutnya, hingga menyentuh US$ 10.000 pada 2030 mendatang.
“Kami tetap mempertahankan perkiraan harga emas di US$ 10.000 per troy ons pada akhir dekade ini,” kata Ed Yardeni, presiden Yardeni Research.
Ahli strategi investasi di Global X ETFs, Justin Lin mengatakan bahwa proyeksi harga emas dipertahankan di kisaran US$ 6.000 per troy ons pada akhir tahun.
“(Penurunan harga emas) baru-baru ini merupakan titik masuk yang menarik bagi investor,” bebernya.
“Penurunan harga tampaknya didorong oleh kombinasi sensitivitas jangka pendek terhadap suku bunga yang tinggi, penyeimbangan kembali portofolio di tengah pelemahan pasar ekuitas, dan tingkat rasa puas diri seputar konflik yang sedang berlangsung di Iran,” kata Lin. Menurutnya, prospek bullish harga emas tidak bergantung pada premi risiko terkait perang antara AS-Israel dan Iran.
“Sebaliknya, hal itu dibangun di atas latar belakang yang lebih luas dari ketidakpastian geopolitik yang terus-menerus, permintaan bank sentral yang berkelanjutan, dan arus masuk yang berkelanjutan dari investor ETF emas Asia,” katanya.