JAKARTA, Detiktoday.com – Kalangan analis menilai harga emas masih memiliki prospek yang positif untuk 12 bulan ke depan, meski gejolak konflik di Timur Tengah masih mendominasi sentimen global dalam jangka menengah.
Amundi Investment Institute memproyeksikan harga emas masih memiliki peluang untuk mencapai US$ 5.500 per troy ounce dalam 12 bulan.
Para analis di Amundi menyoroti salah satu faktor yang melemahkan harga emas saat ini, yaitu lonjakan harga energi yang memicu kenaikan inflasi. Perkembangan ini memicu kekhawatiran tentang kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat dan menyebabkan harga emas stagnan.
Namun, pengamatan lebih dekat mengungkapkan gambaran yang lebih luas. Meskipun kenaikan harga energi mendorong inflasi, inflasi inti AS tetap moderat di angka 2,6% selama 12 bulan terakhir.
Angka ini masih di atas target 2% Federal Reserve AS, tetapi tidak meningkat lebih lanjut.
Bagi Amundi, ini adalah faktor penentu. Jika inflasi inti AS tidak meningkat, tekanan pada bank sentral untuk meningkatkan suku bunga secara agresif akan menurun. Oleh karena itu, hambatan suku bunga saat ini seharusnya mereda lebih cepat daripada yang saat ini diperkirakan pasar.
Selain itu, prospek positif Amundi juga didukung oleh permintaan struktural emas di antara bank-bank sentral global yang terus berlanjut.
“Pilar pendukung utama tetaplah permintaan berkelanjutan dari bank sentral, terutama di pasar negara berkembang. Mereka secara strategis mendiversifikasi cadangan mata uang dari dolar AS. Emas berfungsi sebagai aset cadangan netral dan independen secara geopolitik. Tren ini tetap utuh dan menciptakan fondasi yang kuat yang meredam fluktuasi jangka pendek,” ungkapnya.