Hal yang Luput setelah Pengumuman MSCIHal yang Luput setelah Pengumuman MSCI

3 Skenario Keputusan MSCI Pekan Depan3 Skenario Keputusan MSCI Pekan Depan

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Pengumuman Global Market Accessibility Review 2026 dari penyedia index internasional MSCI keluar dini hari pukul 03.30 WIB 19 Juni 2026 berisikan penilaian terhadap 18 kriteria beberapa pasar, termasuk Indonesia, dan menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pergerakan IHSG tanggal 19 Juni yang dibuka di level 6.161,46.

‎‎Riset Henan Sekuritas menyebutkan, laporan Global Market Accessibility Review 2026 MSCI mengevaluasi aksesibilitas pasar modal setiap negara berdasarkan 18 kriteria dalam lima kategori besar. Pengumuman kali ini bukan keputusan final mengenai klasifikasi peringkat pasar Indonesia yang justru akan datang pada tanggal 23 Juni waktu Eropa pekan depan, melainkan “rapor” berisikan penilaian tentang seberapa ramah pasar Indonesia bagi investor institusi global.‎

‎Dari 18 kriteria, Indonesia hanya menyandang dua tanda minus “-” pada kriteria Foreign Exchange Market Liberalization dan Information Flow. Mayoritas sisa kriteria ternilai double-plus “++”, mengindikasikan penempatan Indonesia dalam kelompok Emerging Market masih relatif solid karena tidak terposisi di bawah grup, setara dengan Malaysia atau lebih baik dari India sebagai perbandingan (per 19 Juni 2026), walau hal ini masih baru terkonfirmasi pada pekan depan.‎

‎Henan Sekuritas mengungkap apa artinya masing-masing kriteria dan apakah dua minus ini merupakan berita baru. Pertama, Foreign Exchange Market Liberalization yang menurut Henan bn berita baru. Keterbatasan pasar valas offshore Indonesia dan kewajiban mengaitkan transaksi valuta asing dengan transaksi efek sudah diketahui luas, yang relevan untuk dibaca adalah bahwa tanda minus ini konsisten dengan kondisi makro saat ini yaitu rupiah berada di kisaran Rp 17.794 per dolar AS, BI Rate dipertahankan di 5,75% dalam mode stabilitas, dan DXY ada di 100,855 per pagi hari tanggal 19 Juni 2026. “Pasar valas yang terbatas adalah bagian dari arsitektur kebijakan yang sedang mempertahankan rupiah, bukan kegagalan struktural baru,” sebut riset Henan dikutip Sabtu (20/6/2026).

‎‎Kedua, information flow dan menurut Henan ini adalah perubahan baru. Pemicu utama perubahan penilaian tahun ini dari review tahun 2025 adalah kekhawatiran tentang transparansi kepemilikan saham dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang mengganggu mekanisme pembentukan harga wajar. Ini adalah perubahan nyata, dan MSCI mencatatnya secara eksplisit.‎

‎Satu hal yang penting untuk tidak dilupakan dalam membaca dua minus ini adalah  negara-negara Emerging Market hampir selalu punya catatan minus di beberapa kriteria. India punya tujuh. “Yang membuat Indonesia dalam posisi yang masih layak dipertahankan adalah bahwa 16 dari 18 kriteria lainnya bersih, dan klasifikasi Emerging Market tetap dipertahankan,” sebut Henan Sekuritas.

‎Sebelumnya, Henan Sekuritas menyebutkan sejak tahun 2000, IHSG telah melewati delapan siklus koreksi besar. Per 15 Juni 2026, siklus kedelapan telah membawa IHSG turun 41,72% dari puncaknya, menjadikannya koreksi ketiga terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.

‎‎Ketujuh siklus sebelumnya sudah selesai, dan ketujuhnya berakhir dengan cara yang sama, yakni IHSG kembali ke puncak sebelumnya, lalu membuat puncak baru.

‎‎Menurut Henan Putihrai, seorang investor tidak perlu menjadi analis untuk membaca pasar dengan baik, yang dibutuhkan adalah kerangka pikir yang tepat. Kerangka yang digunakan dalam seri ini membagi setiap siklus koreksi menjadi empat fase.

‎‎Empat fase ini merupakan pola yang muncul secara konsisten pada tujuh siklus kejadian yang mempengaruhi pasar modal Indonesia sejak tahun 2000, dipetakan satu per satu yakni 1. Bom Bali (2002), 2. Global Financial Crisis (GFC, 2008), 3. Krisis Utang Eropa dan Black Monday (2011), 4. Taper Tantrum (2013), 5. Devaluasi Yuan China (2015), 6. COVID-19 (2020), 7. Badai Tarif Trump (2025), dan kini siklus kedelapan yang sedang berlangsung.

‎‎Adapun kerangka 4 fase di siklus IHSG mencakup Descend, Trough, Normalization, dan Recovery.‎

Tiga Skenario

Share