JAKARTA, Detiktoday.com – Saham PT Antam Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) masuk daftar saham pilihan di sektor pertambangan logam. Lantas, saham mana yang menjadi prioritas dan mana yang berpotensi mencetak cuan terbesar? Simak.
Produsen hulu nikel (penambang bijih), seperti Antam (ANTM), Vale Indonesia (INCO), Trimegah Bangun Persada (NCKL), dan Merdeka Battery Materials (MBMA) diuntungkan oleh regulasi baru soal harga patokan mineral (HPM) karena memiliki daya tawar harga yang lebih kuat.
Sebaliknya, pelaku hilir yang membeli bijih nikel akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku serta potensi peningkatan basis perhitungan royalti.
“Kami tetap lebih menyukai emiten yang memiliki eksposur kuat pada bisnis hulu (bijih nikel). ANTM, INCO, NCKL, dan MBMA menjadi pilihan utama,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya, yang dikutip pada Minggu (19/4/2026).
HPM 2026 menjadi titik perubahan struktural dalam penetapan harga bijih nikel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM No 144.K/MB.01/MEM.B/2026 dan berlaku mulai 15 April 2026.
“Ini merupakan revisi paling signifikan terhadap sistem penetapan harga bijih nikel di Indonesia sejak HPM pertama kali diperkenalkan,” jelas Andhika.
Berbeda dengan aturan sebelumnya – Keputusan 268/2025 – yang hanya mengaitkan HPM dengan kadar nikel, kerangka baru ini menggunakan formula multi-komponen yang secara eksplisit memasukkan unsur tambahan seperti besi, kobalt, dan kromium, serta penyesuaian kadar air.
Perubahan itu secara signifikan memperkecil selisih antara harga regulasi dan nilai ekonomi sebenarnya. Ini sekaligus menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara serta memperkuat posisi tawar penambang domestik.
Dengan demikian, penambang bijih nikel seperti ANTM, INCO, NCKL, dan MBMA mendapat angin segar berkat regulasi baru tersebut.
Potensi Cuan Saham